Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Keurbanan dan Media Baru Sandra, Wili
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 4, No.1: April 2020
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v4i1.58

Abstract

Menyoal Gender dalam Drama Opera Kecoa Karya Nano Riantiarno Sandra, Wili
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 5, No.1: April 2021
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v5i1.44

Abstract

Gender issues are complex in society. The difference in terms of sex, role and position often creates gender inequality. This article discusses gender issues portrayed by Nano Riantiarno in his play script titled Opera Kecoa (Cockroach Opera). This research uses descriptive analysis method to reveal data as qualitative information media with close description and loads of nuances to carefully describe the characteristics of one thing (indicator or group), situation, phenomenon, and not limited to data collecting, but also include analysis of interpretation. Through the analysis, it is disclosed that someone’s gender (in this case the characters in the play that are examined) are deeply affected by the role, position and power in the society. Those three factors determine the way someone will be treated in his/her social environment. Those three factors are also the main causes when someone experience gender injustice in his/her life both individually and socially.Permasalahan gender masih menjadi persoalan yang pelik di masyarakat. Perbedaan jenis kelamin, peran, dan posisi sering menimbulkan ketidakadilan gender. Tulisan ini akan membahas persoalan gender yang dipotret Nano Riantiarno lewat naskah dramanya yang berjudul Opera Kecoa. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif untuk mengungkapkan data sebagai media informasi kualitatif dengan pendeskripsian yang teliti dan penuh nuansa untuk menggambarkan secara cermat sifat-sifat suatu hal (indikator atau kelompok), keadaan, fenomena, dan tidak terbatas pada pengumpulan data saja, namun juga meliputi analisis interpretasi. Lewat analisis yang dilakukan, ditemukan fakta bahwa gender 33 seseorang (dalam hal ini para tokoh yang diteliti) sangat dipengaruhi oleh peran, posisi, dan kekuasaannya di masyarakat. Ketiga hal itu juga menjadi faktor penentu perlakuan yang akan diterima seseorang di lingkungannya. Ketiga faktor itu pula yang sering menjadi penyebab utama seseorang mengalami ketidakadilan gender dalam kehidupannya baik secara individu maupun sosial.
Menyelisik Tradisi dan Budaya Melalui Karya Seni Sandra, Wili
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 7, No.1: April 2023
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v7i1.160

Abstract

Membongkar Ruang Urban melalui Penciptaan dan Pengkajian Karya Seni Sandra, Wili
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 7, No.2: Oktober 2023
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v7i2.179

Abstract

Posisi Riset Dalam Penciptaan Karya Seni Sondakh, Sonya Indriati; Sandra, Wili
Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya Vol 8, No.1: April 2024
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v8i1.197

Abstract

Perubahan Identitas Tokoh dalam Film dan Serial TV The Beauty Inside: Simbol Multikulturalisme dan Gender Sandra, Wili; Sapuroh
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 11 No. 2 (2025): Mengkaji Identitas dan Makna Simbolik dalam Karya Seni
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v11i2.646

Abstract

Artikel ini akan menguraikan tentang bagaimana memahami dan “menjadi” Korea lewat film. Pertanyaan dasar yang muncul yang menjadi landasan penelitian ini adalah apakah untuk menjadi benar-benar Korea, seseorang harus dapat berbicara bahasa Korea dan mewujudkan nilai- nilai, adat istiadat, serta pola pikir masyarakat Korea? Pertanyaan itu didasari oleh pandangan tentang kecintaan orang Korea pada identitas inilah yang memengaruhi cara pandang mereka terhadap orang yang berbeda ras, suku, agama, dan budaya. Pada penelitian kali ini penulis ingin melihat bagaimana persoalan identitas masyarakat Korea ditampilkan dalam film The Beauty Inside yang dirilis pada 2015 dan serial TV dengan judul yang sama yang ditayangkan pada 2018. Penelitian terhadap film ini sebelumnya pernah dilakukan oleh Ariesva Retno Putri (2018), namun ia hanya melihat respons tokoh lain terhadap perubahan yang dialami tokoh utama. Pada penelitian ini penulis ingin melihat bagaimana persoalan identitas ditampilkan pada tokoh utama dalam film dan serial TV The Beauty Inside, serta bagaimana perubahan tokoh utama dari laki- laki ke perempuan mempengaruhi pemaknaan ideologi teks dalam cerita. Karena berasal dari dua jenis media yang berbeda, yaitu film dan serial TV, penulis akan menggunakan “pisau bedah” yang sesuai dengan masing-masing karya untuk melihat perubahan yang ada di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan identitas tokoh utama dalam film dan serial TV The Beauty Inside digambarkan berbeda pada kedua media. Pada versi film tokoh utama adalah seorang laki-laki yang berubah fisik setiap hari (kehilangan identitas asli), sedangkan pada versi serial TV tokoh utama digambarkan sebagai perempuan yang berubah fisiknya secara rutin setiap bulan (masih memiliki identitas asli). Perubahan jenis kelamin dan perbedaan penggambaran pada tokoh utama memunculkan adanya ideologi teks yang berbeda. Film The Beauty Inside membawa nilai-nilai multikulturalisme, sedangkan serial TV The Beauty Inside membawa ideologi gender. FilmThe Beauty Inside seolah ingin menolak pandangan masyarakat Korea yang masih mendefinisikan identitas sebagai hasil keturunan dan budaya, sedangkan serial TV The Beauty Inside ingin menyuarakan kesetaraan gender bagi para perempuan dengan menolak dominasi patriarki. This article will explore how to understand and “become” Korean through film. The fundamental question that emerges, which forms the basis of this research, is whether to truly be Korean, one must be able to speak Korean and embody Korean values, customs, and mindsets. This question is based on the view that Koreans' love of identity influences their perspectives on people of different races, ethnicities, religions, and cultures. In this study, the author wants to examine how the issue of Korean identity is portrayed in the film The Beauty Inside, released in 2015, and the TV series of the same name, broadcast in 2018. Previous research on this film was conducted by Ariesva Retno Putri (2018), but she only examined the responses of other characters to the changes experienced by the main character. In this study, the author wants to examine how the issue of identity is portrayed by the main character in the film and TV series The Beauty Inside, and how the main character's transformation—from male to female—influences the interpretation of the text's ideology in the story. Because they originate from two different media, namely film and TV series, the author will use a "scalpel" appropriate to each work to examine the changes within them. The results of the study indicate that the identity changes of the main characters in the film and TV series "The Beauty Inside" are depicted differently in both media. In the film version, the main character is a man who physically changes every day (losing his original identity), while in the TV series version, the main character is depicted as a woman who physically changes regularly every month (retaining her original identity). The gender changes and differences in the depictions of the main characters give rise to different textual ideologies. The film "The Beauty Inside" promotes multiculturalism, while the TV series "The Beauty Inside" promotes gender ideology. The film "The Beauty Inside" appears to reject the view of Korean society that still defines identity as a result of heredity and culture, while the TV series "The Beauty Inside" advocates gender equality for women by rejecting patriarchal domination.