Pendidikan yang hakiki tidak sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi juga membimbing peserta didik menuju kesadaran akan tujuan hidup yang bersumber dari nilai-nilai ketuhanan. Dalam praktik pendidikan Islam modern, aspek spiritual sering kali terabaikan, sehingga proses pembelajaran lebih berfokus pada aspek kognitif dan bersifat mekanis. Berangkat dari hal ini, penelitian ini mengajukan dua pertanyaan: (1) bagaimana Ibnu Katsir menafsirkan konsep mahabbah (cinta) kepada Allah dalam ayat-ayat Al-Qur’an?, dan (2) bagaimana relevansi konsep tersebut sebagai orientasi pendidikan masa kini? Tujuan penelitian adalah mengkaji makna mahabbah dalam Tafsir Ibnu Katsir dan menganalisis relevansinya bagi pendidikan kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan dan analisis tafsir tematik. Data diperoleh dari sumber-sumber primer seperti Al-Qur’an, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhīm karya Ibnu Katsir, serta literatur pendukung seperti buku dan jurnal ilmiah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mahabbah kepada Allah dalam penafsiran Ibnu Katsir bukan sekadar perasaan religius, melainkan kesadaran spiritual tertinggi yang terwujud dalam ketaatan kepada Rasulullah ﷺ, ketekunan dalam beramal saleh, dan komitmen terhadap ajaran Islam. Dengan demikian, cinta kepada Allah menjadi pondasi keimanan yang harus dibuktikan melalui ketaatan, kesetiaan, dan perbuatan baik. Konsep ini sangat relevan dijadikan dasar pendidikan Islam karena memadukan aspek spiritual, moral, dan emosional dalam pembelajaran. Nilai mahabbah tidak hanya mendorong pemahaman agama, tetapi juga penerapannya secara konsisten, sehingga pendidikan dapat membentuk insan yang paripurna: beriman, berilmu, dan berakhlak luhur.