Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Self Efficacy Dengan Self Management Pada Penderita Diabetes Melitus Di Klinik Romana Tahun 2024 Siringo, Marcelina Dwi Sawita; Simanullang , Murni Sari Dewi; Ginting, Friska Sri Handayani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5938

Abstract

Diabetes Melitus yang dikenal sebagai "the silent killer" merupakan penyakit kronis tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat secara global. Indonesia menempati peringkat ke-5 di dunia dengan 18 juta jiwa penderita diabetes pada tahun 2020. Self management DM merupakan aspek fundamental dalam pengelolaan diabetes yang komprehensif, namun realitas menunjukkan masih terdapat kesenjangan signifikan dalam implementasinya. Penelitian menunjukkan bahwa 54,3%-64,3% penderita DM memiliki self management buruk di berbagai wilayah Indonesia. Self efficacy atau keyakinan diri menjadi faktor krusial yang mempengaruhi keberhasilan self management karena berkaitan dengan kemampuan pasien dalam melakukan perubahan perilaku kesehatan yang diperlukan untuk pengelolaan penyakit diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan self efficacy dengan self management pada penderita Diabetes Melitus di Klinik Romana tahun 2024, khususnya dalam mengidentifikasi tingkat self efficacy dan self management serta menganalisis hubungan antara kedua variabel tersebut. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 51 responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner DMSES (Diabetes Management Self Efficacy Scale) untuk mengukur self efficacy dan kuesioner DSMQ (Diabetes Self Management Questionnaire) untuk mengukur self management yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Data dikumpulkan pada bulan November 2024 dan dianalisis menggunakan uji Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki self efficacy baik (76,5%) dan self management baik (62,7%). Karakteristik responden menunjukkan mayoritas berjenis kelamin perempuan (66,7%), berusia 41-50 tahun (39,2%), berpendidikan SMA (47,1%), dan berstatus menikah (76,5%). Uji statistik menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara self efficacy dengan self management. Kesimpulan penelitian menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara self efficacy dengan self management pada penderita Diabetes Melitus, dimana self efficacy yang baik cenderung menghasilkan self management yang baik pula, meskipun faktor eksternal seperti dukungan keluarga dan lingkungan juga berperan penting dalam keberhasilan self management diabetes melitus.
Pengaruh Senam Hipertensi Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Lansia Dengan Riwayat Hipertensi Di Uptd Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2024 Barus, Mardiati; Simanullang , Murni Sari Dewi; Manik, Abjun Roy
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6102

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang paling banyak dialami oleh populasi lanjut usia dengan prevalensi yang terus meningkat setiap tahunnya. Data Dinas Kesehatan Kota Medan menunjukkan peningkatan signifikan kasus hipertensi dari 54.543 jiwa pada tahun 2021 menjadi 65.904 jiwa pada tahun 2022. Di Provinsi Sumatera Utara, prevalensi lansia berusia ≥75 tahun yang menderita hipertensi mencapai 62,4%. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi serius seperti stroke, gagal jantung, infark miokard akut, dan penyakit ginjal. Senam hipertensi sebagai terapi non-farmakologis telah terbukti dapat menurunkan tekanan darah melalui mekanisme vasodilatasi pembuluh darah, peningkatan asupan oksigen pada otot jantung, serta optimalisasi proses metabolisme tubuh. Namun, intervensi ini belum diterapkan secara optimal di fasilitas pelayanan sosial lanjut usia, khususnya di UPTD Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai yang belum memiliki program terapi non-farmakologis untuk mengelola hipertensi pada populasi lansia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh senam hipertensi terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan riwayat hipertensi di UPTD Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai tahun 2024, dengan fokus mengidentifikasi tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi serta menganalisis efektivitas senam hipertensi dalam menurunkan tekanan darah. Metode penelitian menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Sampel berjumlah 27 responden lansia dengan hipertensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi meliputi lansia berusia ≥50 tahun dengan hipertensi derajat I-II, tanpa gangguan mobilitas dan gangguan jiwa. Intervensi senam hipertensi dilaksanakan selama 4 minggu dengan frekuensi 4 sesi, durasi 5-10 menit per sesi. Pengukuran tekanan darah menggunakan spygmomanometer analog dan stetoskop yang telah dikalibrasi. Data dianalisis menggunakan analisis univariat untuk distribusi frekuensi dan uji Wilcoxon untuk analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukkan penurunan progresif tekanan darah dari intervensi pertama hingga keempat. Rata-rata tekanan darah sistolik menurun dari 147 mmHg menjadi 133 mmHg, sedangkan tekanan darah diastolik menurun dari 88 mmHg menjadi 81 mmHg. Distribusi responden mengalami perubahan signifikan dimana 92,6% bergeser dari kategori hipertensi derajat 1 ke pre-hipertensi pasca intervensi. Uji statistik Wilcoxon menghasilkan nilai ρ = 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan terdapat pengaruh bermakna senam hipertensi terhadap penurunan tekanan darah. Kesimpulan penelitian menyimpulkan bahwa senam hipertensi terbukti efektif sebagai intervensi non-farmakologis dalam menurunkan tekanan darah pada lansia dengan riwayat hipertensi, sehingga dapat direkomendasikan sebagai terapi mandiri maupun komplementer dalam penatalaksanaan hipertensi di fasilitas pelayanan sosial lanjut usia.