Penyakit arteri koroner (CAD) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas kardiovaskular global dengan tren peningkatan kasus yang signifikan dalam dekade terakhir, terutama di negara berkembang dan maju (Susanti et al., 2025). Data statistik menunjukkan peningkatan insiden CAD sebesar 15% dalam lima tahun terakhir, dengan konsekuensi ekonomi dan sosial yang besar akibat komplikasi seperti infark miokard (De Maria et al., 2020). Pentingnya penilaian stenosis koroner yang signifikan secara fungsional menjadi isu global yang mendesak untuk menentukan strategi terapi yang optimal dan personalisasi pengobatan. Teori besar yang menjadi dasar adalah teori hemodinamika dan perfusi jantung yang menjelaskan hubungan antara derajat stenosis dan gangguan aliran darah (Sandoval et al., 2025). Evolusi pemikiran teoretis dalam diagnostik CAD berkembang dari analisis struktural menggunakan angiografi konvensional menuju teknik non-invasif dengan kemampuan fungsional seperti fractional flow reserve (FFR), yang kini dianggap standar emas dalam menilai hambatan aliran darah secara langsung (Cheng et al., 2021). Namun, FFR invasif memiliki keterbatasan seperti risiko komplikasi dan biaya tinggi, sehingga mendorong pengembangan teknologi alternatif seperti computed tomography coronary angiography (CCTA) dan radiomik CT koroner (Serruys et al., 2023). Radiomik CT koroner mengekstraksi fitur lanjutan dari citra CT yang mampu menilai jaringan adiposa peri-koroner dan karakteristik plak secara detail, sehingga dianggap memiliki potensi besar dalam mendeteksi lesi hemodinamik yang signifikan (Xu et al., 2024). Beberapa studi menunjukkan radiomik memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang menjanjikan, namun hasil bervariasi karena perbedaan metodologi dan teknologi CT yang digunakan (Yun et al., 2021). Oleh karena itu, meta-analisis sistematis diperlukan untuk mengevaluasi akurasi diagnostik radiomik dibandingkan FFR sebagai pembanding referensi (Peters et al., 2024). Permasalahan utama yang diangkat adalah ketidakpastian diagnostik dalam deteksi stenosis signifikan menggunakan metode non-invasif, yang berimplikasi pada keputusan terapi. Urgensi penelitian ini didorong oleh kebutuhan klinis untuk metode yang akurat, efisien, serta minim risiko invasif (Min et al., 2021). Selain itu, terdapat kesenjangan penelitian terkait standarisasi protokol radiomik dan validasi multisenter yang masih minim dalam literatur saat ini (Li et al., 2024). Konsep penelitian ini relevan secara khusus dalam konteks pelayanan kesehatan kardiovaskular di berbagai lokasi dengan keterbatasan fasilitas invasif, seperti di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, sehingga potensi implementasi radiomik sebagai alat skrining non-invasif sangat penting (Guo et al., 2024). Karakteristik khusus populasi CAD di Asia dengan prevalensi faktor risiko berbeda juga menimbulkan kebutuhan riset spesifik yang mendukung generalisasi aplikasi teknologi ini. Penelitian ini bermaksud mengisi research gap dalam pemetaan akurasi diagnostik radiomik CT, khususnya dalam konteks perbandingan langsung dengan FFR invasif, sekaligus mengevaluasi variabilitas hasil terkait metode ekstraksi fitur, jenis scanner, dan pendekatan AI yang digunakan (Suna et al., 2024). Kebaruan studi terletak pada sintesis data terkini dari studi skala besar dengan fokus metodologis yang ketat serta analisis subkelompok teknologi CT dan pendekatan radiomik. Tujuan utama penelitian ini adalah memberikan estimasi akurasi diagnostik radiomik CT koroner dalam mendeteksi stenosis yang hemodinamik signifikan secara fungsional dibandingkan FFR, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi akurasi tersebut. Manfaat teoretis penelitian ini adalah memperkaya kerangka teori diagnostik CAD non-invasif dengan memasukkan konsep fisiologi vaskular dan teknologi citra lanjutan. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan menjadi dasar pengambilan keputusan klinis yang lebih efektif dan aman serta mendukung pengembangan protokol standar radiomik di praktik klinis.