Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sekolah Sebagai Ruang Hegemoni Ideologis: Analisis Pendidikan Dalam Prespektif Antonio Gramsci Labib, Alfi Lakhana
JUPEIS : Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 5 No. 1 (2026): JUPEIS: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial
Publisher : Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jupeis.Vol5.Iss1.2211

Abstract

Artikel ini mengkaji peran sekolah sebagai ruang hegemoni ideologis menurut perspektif Antonio Gramsci. Penelitian ini menjelaskan bagaimana sekolah, melalui berbagai elemen seperti kurikulum, budaya, dan sistem evaluasi, memperkuat ideologi dominan yang mendorong nilai-nilai seperti meritokrasi, individualisme, dan kompetisi. Dalam pandangan Gramsci, pendidikan bukan hanya sekadar sarana transfer pengetahuan, melainkan juga alat untuk menyebarkan ideologi yang mempertahankan status quo, di mana ketidaksetaraan dan struktur kekuasaan tertentu sering dianggap "alami" dan sulit dipertanyakan. Meskipun demikian, meski berada dalam kerangka hegemoni ideologis, sekolah memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan. Dengan menerapkan pendekatan yang lebih inklusif dan reflektif, serta memperkuat peran guru sebagai intelektual organik, sekolah dapat berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan kesadaran kritis dan menentang hegemoni yang ada. Oleh karena itu, pendidikan memiliki kapasitas untuk mendorong transformasi sosial yang lebih adil dan menjadi alat untuk membangun blok historis yang lebih egaliter. Artikel ini menekankan pentingnya pendekatan pedagogik yang dapat mendukung perlawanan terhadap hegemoni ideologis dalam sistem pendidikan.
INOVASI MOTIF BATIK FLORA-FAUNA DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF MELALUI SOCIOPRENEURSHIP DI LAWE INDONESIA Labib, Alfi Lakhana; Aziz, Ardi Mahmudin; Widiastuti, Anik
Jurnal Ekonomi Kreatif Indonesia Vol. 4 No. 1 (2026): January
Publisher : PT. Tangrasula Tekno Kreatif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61896/jeki.v4i1.160

Abstract

ABSTRAK Industri kreatif kini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, memaksimalkan kekayaan budaya lokal sebagai sumber daya ekonomi. LAWE Indonesia, wirausaha sosial di Yogyakarta, sukses menyatukan keuntungan finansial dengan pemberdayaan sosial melalui inovasi produk tradisional. Penelitian ini menganalisis sinergi antara inovasi desain motif flora-fauna, optimalisasi pemasaran digital, dan sociopreneurship untuk mendorong ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi semua memakai purposive sampling. Temuan utama inovasi motif flora-fauna seperti burung Gelatik Jawa dan Cendrawasih Papua menjadi pembeda produk sekaligus penguat identitas nasional di pasar global. Model sociopreneurship LAWE lewat struktur badan usaha dan perkumpulan sosial efektif dayakan kelompok marginal serta perajin lokal, dengan bagi laba untuk pelatihan dan tingkatkan kapasitas. Tantangan regenerasi perajin diatasi melalui program “Tenun untuk Kehidupan” dan teknologi digital, yang menarik generasi muda serta kebutuhan pasar. Peelitian ini merekomendasikan penguatan regenerasi perajin, inovasi desain berbasis budaya, dan pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas dampak ekonomi dan sosial. ABSTRACT The creative industry is now the backbone of the Indonesian economy, maximizing local cultural richness as an economic resource. LAWE Indonesia, a social enterprise in Yogyakarta, has successfully combined financial gain with social empowerment through traditional product innovation. This study analyzes the synergy between innovative flora-fauna motif designs, digital marketing optimization, and sociopreneurship to promote a local culture-based creative economy. Using a qualitative descriptive approach, data was collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation, all using purposive sampling. Key findings include innovative flora-fauna motifs such as the Javan Java Sparrow and the Papuan Bird of Paradise, which differentiate products and strengthen national identity in the global market. LAWE's sociopreneurship model, through its business entity structure and social associations, effectively empowers marginalized groups and local artisans, with profit sharing for training and capacity building. The challenge of artisan regeneration is addressed through the "Weaving for Life" program and digital technology, which attracts the younger generation and meets market needs. This study recommends strengthening artisan regeneration, culture-based design innovation, and utilizing digital technology to expand economic and social impact.