Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Fikih Kontemporer dan Hak Adat; Analisis Fikih Lingkungan atas Usulan Taman Nasional Pegunungan Meratus Febrianti, Kareena Raudah; Mahdiyani, Siti; Fratama, Halim; Ya Ngoh, Burhan
Syariah: Journal of Fiqh Studies Vol 3 No 2 (2025): Syariah: Journal of Fiqh Studies
Publisher : Bidang Penelitian Dan Penulisan Karya Ilmiah (bp2ki) Ma'had Aly Lirboyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini bertujuan untuk secara komprehensif mengkaji perspektif pro, kontra, dan netral terkait usulan penetapan Pegunungan Meratus sebagai Taman Nasional, serta menilai dinamika tersebut dalam kerangka fikih Islam kontemporer guna menghasilkan solusi berkelanjutan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif-analitis, data dikumpulkan melalui wawancara dan studi pustaka. Temuan menunjukkan adanya konflik mendasar antara kepentingan konservasi berbasis negara, khususnya untuk tujuan geopark dan ekogeowisata, dengan perlindungan hak atas tanah adat (hak ulayat) masyarakat Adat Dayak Meratus. Pihak penentang, yang diwakili oleh komunitas adat dan organisasi lingkungan (WALHI), menolak usulan ini karena kekhawatiran terkait pembatasan akses, hilangnya hak atas tanah adat, serta pembatasan terhadap aktivitas ekonomi tradisional, dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut telah terjaga dengan baik tanpa intervensi pemerintah. Sementara itu, pihak pendukung berpendapat bahwa penetapan ini bertujuan untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan warisan geologi serta menjanjikan pemberdayaan masyarakat. Dari perspektif fikih lingkungan Islam, prinsip hifẓ al-bī’ah (perlindungan lingkungan) mewajibkan penghapusan fasād fī al-arḍ (kerusakan di muka bumi). Oleh karena itu, kebijakan yang menyebabkan pencemaran lingkungan atau mengabaikan hak komunitas adat yang telah terbukti efektif menjaga kelestarian lingkungan harus dihindari demi mencegah mudarat dan menjamin kesejahteraan umum (maṣlaḥah). Dengan demikian, studi ini menekankan pentingnya pengakuan terhadap hak-hak masyarakat Adat Dayak Meratus sebagai landasan utama dalam pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia.
Juridical Analysis of the Division of Joint Property in Divorce Cases in Indonesia: Study of Decision No. 308/Pdt.G/2025/PA.Plk Aulia Zahra, Nurul; Mahdiyani, Siti; Ya Ngoh, Burhan
Berasan: Journal of Islamic Civil Law Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/berasan.v4i2.14774

Abstract

This study aims to provide a juridical analysis of the division of joint property in divorce cases based on Decision Number 308/Pdt.G/2025/PA.Plk of the Palangka Raya Religious Court. The research focuses on the legal basis applied by the judge, the juridical considerations underlying the decision, and its conformity with the Marriage Law and the Compilation of Islamic Law (KHI). The method used is normative legal research with a case study approach, analyzing court decisions, legislation, Islamic legal doctrines, and family law literature. The findings reveal that the division of joint property is generally based on the principle of fairness, granting equal shares to husband and wife. In this case, however, the dispute arose because the defendant retained control over the property after the divorce, prompting the plaintiff to file a lawsuit with a request for a conservatoir beslag (security seizure). The proceedings led to mediation, which resulted in a peaceful settlement, and the lawsuit was subsequently withdrawn. Although the case ended amicably, the settlement lacks legal strength because the agreement was not formalized through a deed of settlement (akta perdamaian). The conclusion emphasizes that the mechanism of joint property distribution is not only governed by statutory law but also shaped by mediation as a dispute resolution tool that prioritizes fairness and consensus. Therefore, formal legitimacy through a deed of settlement is essential to ensure that a peacefully resolved case still carries binding legal force