The rampant drug abuse affecting all levels of society, from teenagers to the elderly, has become an increasingly concerning social issue. This phenomenon not only damages individual health but also disrupts family resilience and the broader social fabric. This situation has prompted the Pamekasan Regency Government to take strategic steps to prevent and address drug abuse. One such effort is through community education about the dangers of drugs and intensive counseling for individuals who have fallen into addiction. In this context, the Guest House Drug Addiction Rehabilitation Center (GHANA) plays a vital role in the recovery process for addicts through a religious approach. This study uses a qualitative, descriptive approach to provide an in-depth description of the implementation of religious counseling at the GHANA rehabilitation center. Based on research results and field data, it is known that the therapeutic materials implemented include prayer, dhikr (remembrance of God), and religious sermons (kultum). These three materials are central to the residents' spiritual development process. Prayer serves as a means of cultivating worship, dhikr (remembrance of God) as a means of calming the heart, and religious sermons as a means of strengthening religious understanding. The religious guidance strategies implemented also vary in method, tailored to each counselor's individual style to prevent residents from becoming bored. This variety of methods makes the guidance process more dynamic and effective. The impact of these religious guidance strategies has shown very positive results. Residents experience significant changes, particularly in their mental attitude and spiritual state. They become calmer, more peaceful, and have a greater spiritual awareness than before undergoing rehabilitation. This demonstrates the significant role of religious guidance in supporting the recovery process for drug addicts. Abstrak Maraknya penyalahgunaan narkoba yang menjangkiti berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan remaja hingga usia lanjut, telah menjadi persoalan sosial yang semakin memprihatinkan. Fenomena ini tidak hanya merusak kesehatan individu, tetapi juga mengganggu ketahanan keluarga dan tatanan sosial masyarakat secara luas. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Pamekasan untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya narkoba serta pembinaan intensif terhadap individu yang telah terjerumus sebagai pecandu. Dalam konteks inilah Panti Rehabilitasi Guest House Adiksi Narkoba (GHANA) hadir sebagai lembaga yang berperan penting dalam proses pemulihan para pecandu melalui pendekatan keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam pelaksanaan pembinaan keagamaan di panti rehabilitasi GHANA. Berdasarkan hasil penelitian dan temuan data di lapangan, diketahui bahwa materi terapi yang diterapkan meliputi sholat, amalan dzikir, dan kultum. Ketiga materi ini menjadi inti dalam proses pembinaan spiritual para resident. Sholat dijadikan sebagai sarana pembiasaan ibadah, dzikir sebagai media penenang hati, dan kultum sebagai sarana penguatan pemahaman keagamaan. Strategi pembinaan keagamaan yang diterapkan juga bervariasi dari segi metode, disesuaikan dengan gaya masing-masing pembimbing agar resident tidak merasa jenuh. Variasi metode ini membuat proses pembinaan lebih dinamis dan efektif. Dampak dari strategi pembinaan agama tersebut menunjukkan hasil yang sangat positif. Para resident mengalami perubahan signifikan, terutama dalam sikap mental dan kondisi rohani. Mereka menjadi lebih tenang, tentram, dan memiliki kesadaran spiritual yang lebih baik dibandingkan sebelum menjalani rehabilitasi. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan memiliki peran besar dalam mendukung proses pemulihan pecandu narkoba.