Pertumbuhan penduduk dan keterbatasan lahan di wilayah perkotaan menimbulkan tantangan dalam menjaga ketahanan pangan dan kualitas lingkungan, sebagaimana dialami Kota Yogyakarta akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi area permukiman. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model pertanian perkotaan terintegrasi berbasis masyarakat yang dapat meningkatkan kemandirian pangan, memperkuat hubungan sosial, serta mendukung fungsi edukasi lingkungan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif partisipatif berbasis design thinking melalui lima tahap: empathize, define, ideate, prototype, dan test. Implementasi metode partisipatoris dalam penelitian ini dilakukan melalui pameran gagasan desain kebun yang melibatkan masyarakat dan kelompok tani untuk memberikan masukan langsung, serta penerapan metode performatif kolaboratif berupa pengambilan video diskusi kelompok tani dalam pembahasan detail rancangan. Data diperoleh dari observasi, wawancara mendalam, focus group discussion (FGD), dan dokumentasi kegiatan lapangan di Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan pertanian perkotaan yang mengintegrasikan aspek pangan, sosial, dan edukasi dapat berkembang secara berkelanjutan melalui keterlibatan aktif warga. Penerapan pameran partisipatoris dan metode performatif kolaboratif efektif memperkuat proses pembelajaran bersama, meningkatkan rasa kepemilikan, serta membangun jaringan sosial yang adaptif di lingkungan urban. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pertanian perkotaan berbasis masyarakat berperan tidak hanya dalam penyediaan pangan, tetapi juga sebagai ruang interaksi dan pemberdayaan masyarakat.