Pendidikan karakter merupakan fondasi esensial dalam membentuk individu yang berakhlak mulia. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), metode pembentukan karakter seringkali melibatkan penanaman nilai-nilai moral yang didukung oleh mekanisme pengendalian perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam efektivitas dan implementasi metode Reward (penghargaan) dan Punishment (hukuman) sebagai instrumen pedagogis dalam membentuk dan menginternalisasi karakter positif pada remaja. Fokus utama adalah mengukur sejauh mana kedua pendekatan ini, yang berakar pada prinsip targhīb (motivasi/janji kebaikan) dan tarhīb (ancaman/peringatan), mampu membentuk kesadaran moral, disiplin, dan tanggung jawab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi literatur (library research), mengkaji berbagai sumber primer dan sekunder, termasuk literatur PAI kontemporer, kajian psikologi pendidikan Islam, dan jurnal-jurnal terkait. Data dianalisis melalui teknik analisis konten untuk mengidentifikasi pola-pola konseptual, landasan teologis, serta argumen pro dan kontra mengenai penerapan punishment dan reward dalam pendidikan karakter remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Reward (penghargaan) memiliki korelasi positif yang kuat dalam meningkatkan motivasi intrinsik dan penguatan perilaku positif ( akhlak mahmūdah). Sebaliknya, penggunaan Punishment (hukuman) harus dilakukan dengan sangat bijaksana, non-fisik, edukatif, dan proporsional untuk menghindari trauma atau resistensi, serta harus berorientasi pada perbaikan (ta'dīb) bukan penghinaan. Dalam kerangka PAI, kedua mekanisme ini harus diposisikan sebagai alat bantu yang bersinergi untuk menumbuhkan self-control dan kesadaran bahwa segala tindakan memiliki konsekuensi di dunia dan akhirat. Karakter remaja yang terbentuk meliputi kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Reward dan Punishment dan merupakan dualitas metode yang efektif dalam PAI untuk membentuk karakter remaja, asalkan penerapannya didasarkan pada prinsip-prinsip Islam yang humanis dan edukatif. Keberhasilan implementasi terletak pada keseimbangan, konsistensi, dan keteladanan pendidik, memastikan bahwa tujuan utamanya adalah pembentukan akhlak mulia dan kesalehan personal secara berkelanjutan.