Penelitian ini menganalisis efektivitas implementasi Kurikulum Berbasis Konteks Minoritas dalam pembentukan karakter siswa, khususnya toleransi, tanggung jawab sosial, dan kemandirian, di Madrasah Aliyah (MA) Kalifa Nusantara, sebuah institusi Islam yang beroperasi di tengah mayoritas Hindu Bali. Masalah utamanya adalah kebutuhan lembaga minoritas menyeimbangkan penanaman nilai-nilai keagamaan dengan adaptasi kultural untuk menciptakan individu yang kokoh identitasnya namun partisipatif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal (single case study) di MA Kalifa Nusantara, dengan pengumpulan data melalui triangulasi sumber. Hasil utama menunjukkan Kurikulum Berbasis Konteks Minoritas berhasil mengintegrasikan filosofi Islam dengan kearifan lokal Bali (Tri Hita Karana dan menyama braya) melalui kurikulum formal, kokurikuler, dan budaya sekolah. Implementasi ini sukses mentransformasi toleransi pasif menjadi toleransi aktif dan partisipatif. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan pemahaman kognitif siswa terhadap budaya mayoritas dan partisipasi aktif dalam kegiatan komunitas non-agama (Pengabdian Kontekstual). Kurikulum Berbasis Konteks Minoritas juga efektif menumbuhkan tanggung jawab sosial dan kemandirian yang selaras dengan prinsip Tri Kon Ki Hajar Dewantara. Simpulannya, model "integrasi kontekstual minoritas-sentris" ini merupakan strategi kurikulum yang sangat efektif. Model ini memperkuat karakter adaptif siswa tanpa melemahkan identitas religius mereka dan menghasilkan agen toleransi aktif. Implikasi penelitian ini menyarankan Kurikulum Berbasis Konteks Minoritas MA Kalifa Nusantara dapat dijadikan model percontohan (blueprint) bagi lembaga minoritas lain di Indonesia untuk mendorong partisipasi aktif dalam komunitas lokal.