Kekerasan seksual merupakan suatu tindakan seksual yang terjadi secara paksa dan tanpa persetujuan dengan kasus yang meningkat setiap tahunnya. Kasus ini berdampak pada fisik, psikologis, dan sosial. Salah satu yang berperan penting sebesar 86% untuk mempengaruhi perilaku masalah kesehatan pada manusia termasuk tindakan kekerasan seksual adalah self efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dengan tindakan kekerasan seksual pada remaja. Penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan pendekatan cross sectional pada 238 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling, dengan instrumen Generalized Self-Efficacy Scale dan kuesioner kekerasan seksual yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, serta dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian di SMA N 7 Kota Pekanbaru menunjukkan self efficacy tinggi sebanyak 177 responden (74,4%), self efficacy rendah sebanyak 61 responden (25,6%), yang mengalami adanya kekerasan seksual sebanyak 66 responden (27,7%), tidak mengalami adanya kekerasan seksual sebanyak 172 responden (72,3%). Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan adanya hubungan antara self efficacy dengan tindakan kekerasan seksual pada remaja dengan p value (0,000) < α (0,05). Hasil menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara self efficacy dengan tindakan kekerasan seksual pada remaja, semakin tinggi self efficacy remaja maka semakin besar kemampuan mereka untuk menghindari, menolak, dan melaporkan kekerasan seksual.