Tujuan Penelitian untuk memahami bagaimana tradisi Motiayo tetap dipertahankan oleh masyarakat Desa Diloniyohu di tengah perubahan cara kerja generasi muda yang lebih praktis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data berupa Observasi, wawancara dan Dokumentasi. Adapun teknik pengumpulan data yaitu Redukasi Data, Penyajian Data dan Penarikan kesimpulan. berdasarkan teori solidaritas mekanik Emile Durkheim dan perspektif sosiologi. Tradisi Motiayo di Desa Diloniyohu merupakan bentuk nyata dari nilai gotong royong dan solidaritas sosial masyarakat Gorontalo. Tradisi ini berfungsi mempererat hubungan antarwarga melalui kegiatan tolong-menolong dalam pertanian, pembangunan rumah, dan acara sosial. Nilai utama yang terkandung dalam Motiayo meliputi kerja sama, keikhlasan, empati, serta rasa kekeluargaan yang tinggi. Keberlangsungan tradisi Motiayo mulai terpengaruh oleh modernisasi, perubahan gaya hidup, dan menurunnya partisipasi generasi muda. Meskipun demikian, masyarakat masih berupaya melestarikan Motiayo melalui kegiatan komunitas dan pendidikan keluarga. Secara teoretis, Motiayo mencerminkan solidaritas mekanik yang dijelaskan oleh Emile Durkheim, di mana kesadaran kolektif menjadi dasar kohesi sosial masyarakat tradisional. Nilai kebersamaan yang kuat membuat Motiayo tetap relevan sebagai perekat sosial di tengah perubahan zaman. Masyarakat diharapkan terus menjaga dan mempraktikkan nilai-nilai Motiayo dalam kehidupan sehari-hari agar tradisi ini tidak hilang. Tokoh adat dan pemerintah desa perlu berkolaborasi mengadakan kegiatan pelestarian budaya seperti kerja bakti, festival gotong royong, untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Generasi muda dihimbau agar aktif terlibat dalam tradisi Motiayo dengan mengadaptasikan nilai-nilai gotong royong ke dalam kegiatan modern, misalnya kerja sama dalam pertanian modern, proyek sosial, kegiatan komunitas digital.