Meningkatnya keterlibatan Generasi Z dalam dunia kerja memunculkan tantangan baru terkait kesehatan mental, terutama meningkatnya risiko burnout akibat tuntutan kerja yang tinggi serta batasan kerja–kehidupan yang semakin kabur. Burnout merupakan kondisi kelelahan kerja kronis yang ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian personal, yang berdampak negatif terhadap kesejahteraan individu sekaligus kinerja organisasi. Salah satu faktor yang banyak diteliti sebagai penyangga psikologis terhadap burnout adalah work–life balance, yaitu kemampuan individu dalam mengelola tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi secara seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif peran protektif work–life balance terhadap burnout pada karyawan Generasi Z melalui pendekatan tinjauan sistematis. Metode yang digunakan adalah systematic review dengan mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Pencarian literatur dilakukan pada basis data Google Scholar, DOAJ, dan ResearchGate terhadap artikel empiris yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara tematik guna mengidentifikasi pola hubungan antara work–life balance dan burnout. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa work–life balance secara konsisten berkorelasi negatif dengan burnout, yang mengindikasikan perannya sebagai faktor protektif terhadap kelelahan emosional pada karyawan Generasi Z. Namun, kekuatan hubungan tersebut dipengaruhi oleh faktor kontekstual, seperti beban kerja, ambiguitas peran, fleksibilitas kerja, dan dukungan organisasi. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan kebijakan kerja yang mendukung keseimbangan kerja–kehidupan sebagai strategi preventif untuk menekan burnout pada Generasi Z.