ABSTRAKCreative Hub yang dirancang dengan pendekatan arsitektur biofilik di Kabupaten Luwu menjawab kebutuhan mendesak akan ruang kolaboratif untuk mendukung ekonomi kreatif lokal. Proyek ini merespons kurangnya infrastruktur yang memadai untuk kegiatan edukasi, produksi, dan interaksi budaya, khususnya bagi pelaku UMKM dan komunitas kreatif. Lokasi yang dipilih secara strategis di Kota Belopa memungkinkan integrasi optimal dengan fungsi-fungsi perkotaan yang sudah ada. Metodologi desain menggabungkan analisis spasial, partisipasi komunitas, dan prinsip-prinsip biofilik, sehingga menghasilkan konsep yang menekankan pada pencahayaan alami, ventilasi, vegetasi, dan identitas budaya. Fasilitas utama mencakup ruang kerja bersama (co-working space), galeri seni, amfiteater, bengkel kreatif (workshop), dan taman edukasi, yang tersebar dalam zona-zona fungsional yang jelas. Massa bangunan mengadopsi bentuk organik yang mencerminkan topografi lokal serta mendukung praktik berkelanjutan seperti pemanenan air hujan dan atap hijau. Hasil perancangan menunjukkan bahwa Creative Hub biofilik ini meningkatkan kesejahteraan pengguna, mendorong kreativitas, dan mempromosikan inklusi sosial. Ia tidak hanya menjadi wadah fisik bagi pengembangan seni dan kewirausahaan, tetapi juga menjadi landmark ekologis dan kultural yang memperkuat identitas kawasan Luwu. Rancangan ini menawarkan model yang dapat direplikasi dalam mengintegrasikan keberlanjutan, warisan budaya, dan keterlibatan komunitas dalam perencanaan infrastruktur kreatif. ABSTRACTThe Creative Hub designed using a biophilic architectural approach in Luwu Regency addresses the urgent need for collaborative spaces to support the local creative economy. The project responds to the lack of adequate infrastructure for education, production, and cultural interaction, especially for small businesses and creative communities. The selected site, strategically located in Belopa, allows optimal integration with existing urban functions. The design methodology integrates spatial analysis, community participation, and biophilic principles, resulting in a concept that emphasizes natural light, ventilation, greenery, and cultural identity. Key facilities include co-working spaces, art galleries, an amphitheater, workshops, and educational gardens, distributed across clearly defined functional zones. The massing adopts organic forms that reflect the region’s topography and support sustainable practices such as rainwater harvesting and green roofs. Results show that the biophilic Creative Hub enhances user well-being, fosters creativity, and promotes social inclusion. It serves not only as a physical platform for artistic and entrepreneurial development but also as an ecological and cultural landmark that strengthens the regional identity of Luwu. The design offers a replicable model for integrating sustainability, cultural heritage, and community engagement into creative infrastructure planning.