Fokus kajian ini adalah interaksi antara budaya Toraja yang menganut Aluk Todolo dengan strategi pekabaran Injil pada awal abad ke-20. Sebelum hadirnya Injil, Aluk Todolo berfungsi sebagai pedoman hidup yang mengatur pola pikir, perilaku, dan tata kehidupan sosial masyarakat Toraja. Kehadiran Injil mulai diperkenalkan setelah Belanda menaklukkan Toraja pada 1906 melalui lembaga zending Gereformeerde Zendingsbond (GZB). Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan strategi zendeling dalam pekabaran Injil tahun 1913 di Makale serta mendeskripsikan faktor penerimaan Kristen di tengah budaya masyarakat Toraja. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan pendekatan strukturalisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi zendeling dilakukan melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pendekatan terhadap kepala suku. Melalui pendidikan diperkenalkan pengetahuan modern, pelayanan kesehatan menghadirkan kepedulian nyata, sedangkan dukungan kepala suku memperluas penerimaan Injil. Faktor sosial dan akulturasi budaya turut mempercepat proses penerimaan, sebab Injil tidak meniadakan adat, tetapi memberi makna baru pada tradisi seperti Rambu Solo’, Rambu Tuka’. Kesimpulannya, keberhasilan pekabaran Injil di Makale tahun 1913 terwujud karena strategi zendeling yang holistik dan mampu berdialog dengan budaya lokal. Proses ini menghasilkan transformasi sosial-religius yang mengintegrasikan nilai budaya Toraja dengan ajaran Kristen.