Hachi, M. Nawafil
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

A Local Wisdom Based Literacy Program at the TBM Rumah Peradaban SNC Fannaz in Supporting the Sustainable Development Goals (SDGs) Hachi, M. Nawafil; Batubara, Abdul Karim
Inkunabula: Journal of Library Science and Islamic Information Vol. 5 No. 1 (2026): March
Publisher : Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Universitas Islam Negerin Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/inkunabula.v4i2.5007

Abstract

This study aims to analyze the implementation of a local wisdom–based literacy program at the Community Reading Center (Taman Bacaan Masyarakat/TBM) Rumah Peradaban SNC Fannaz and its contribution to achieving the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 4 (Quality Education), SDG 10 (Reduced Inequalities), and SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). This research employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through in-depth interviews with program managers, volunteers, and beneficiaries, participatory observation of literacy activities, and documentation of TBM programs. Data analysis was conducted interactively through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing, with data validity ensured through triangulation and member checking. The findings indicate that the literacy program at TBM Rumah Peradaban SNC Fannaz integrates Mandailing and Malay Deli local wisdom through reading and storytelling of folk narratives, intergenerational literacy activities, the use of local languages, and the involvement of young volunteers as facilitators of cultural literacy. This approach has been shown to increase reading interest, strengthen participants’ cultural identity, expand access to inclusive nonformal education, and promote community social cohesion. However, the study also identified several challenges, including the limited availability of local cultural collections, the lack of systematically documented managerial capacity, funding constraints, and the suboptimal integration of digital literacy based on local content. Overall, this study confirms that local wisdom–based literacy programs in community reading centers have the potential to serve as contextual, inclusive, and sustainable models of nonformal education, while also making a tangible contribution to the achievement of the SDGs at the community level. These findings are expected to serve as a reference for community reading center managers, local governments, and policymakers in developing culturally grounded literacy programs oriented toward sustainable development. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi program literasi berbasis kearifan lokal di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rumah Peradaban SNC Fannaz serta kontribusinya terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 10 (Pengurangan Ketimpangan), dan SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengelola, relawan, dan penerima manfaat, observasi partisipatif terhadap kegiatan literasi, serta studi dokumentasi program TBM. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan menjamin keabsahan data melalui triangulasi dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program literasi di TBM Rumah Peradaban SNC Fannaz mengintegrasikan kearifan lokal Mandailing dan Melayu Deli melalui kegiatan membaca dan mendongeng cerita rakyat, literasi lintas generasi, penggunaan bahasa daerah, serta pelibatan relawan muda sebagai fasilitator literasi budaya. Pendekatan ini terbukti meningkatkan minat baca, memperkuat identitas budaya peserta, memperluas akses pendidikan nonformal yang inklusif, serta mendorong kohesi sosial komunitas. Namun demikian, penelitian juga menemukan sejumlah tantangan, seperti keterbatasan koleksi budaya lokal, kapasitas manajerial yang belum terdokumentasi secara sistematis, keterbatasan pendanaan, serta belum optimalnya integrasi literasi digital berbasis konten lokal. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa literasi berbasis kearifan lokal di TBM berpotensi menjadi model pendidikan nonformal yang kontekstual, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus berkontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs di tingkat komunitas. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengelola TBM, pemerintah daerah, dan pembuat kebijakan dalam mengembangkan program literasi berbasis budaya lokal yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan