Indonesian students' mathematical literacy levels are relatively low compared to international standards. To overcome this challenge, it is crucial to implement contextual and applicable questions that can effectively improve students' mathematical literacy skills in a meaningful way. This study aims to analyze student characteristics in solving mathematical literacy problems and emotional intelligence tests using the Rasch model. A quantitative research approach was utilized by conducting a survey involving 280 high school students from grades 10 and 11 across three different schools in Jakarta. The instruments used were descriptive mathematical literacy questions and emotional intelligence questionnaires, both validated in terms of content and construct. The Wright map analysis revealed that variables such as gender, grade level, and school location have an influence on students' mathematical literacy and emotional intelligence levels. Male and grade 10 students demonstrated higher performance, with 25.6% showing better results compared to 11.58% of female and grade 11 students. Additionally, Differential Item Functioning (DIF) analysis revealed bias in certain test items, favoring specific groups like grade 10 and male students. The study highlights the importance of accounting for student characteristics in the development and assessment of educational tools to ensure fairness and representativeness. Tingkat kemampuan literasi matematis peserta didik di Indonesia masih berada di bawah rata-rata capaian internasional. Sehingga perlu diatasi dengan soal-soal kemampuan literasi matematis yang bersifat kontekstual dan aplikatif untuk mendukung pengembangan keterampilan literasi matematis secara signifikan. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengevaluasi karakteristik peserta didik dalam menyelesaikan tes kemampuan literasi matematis dan kecerdasan emosional melalui pendekatan Rasch model. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif melalui desain survei terhadap 280 peserta didik SMA kelas 10 dan 11 di tiga sekolah berbeda di Jakarta. Instrumen yang digunakan berupa soal uraian literasi matematis dan angket kecerdasan emosional yang divalidasi secara isi dan konstruk. Hasil analisis menggunakan Wright map menunjukkan bahwa jenis kelamin, jenjang kelas dan daerah sekolah dapat memengaruhi kemampuan literasi matematis dan kecerdasan emosional. Peserta didik laki-laki serta siswa kelas 10 cenderung menunjukkan tingkat literasi matematis dan kecerdasan emosional yang lebih tinggi, yaitu sebesar 25,6%, dibandingkan dengan peserta didik perempuan dan siswa kelas 11 yang hanya mencapai 11,58%. Selain itu, ditemukan bias item (DIF) yang menunjukkan kecenderungan instrumen lebih menguntungkan kelompok tertentu, seperti kelas 10 dan peserta didik laki-laki. Penelitian ini menekankan pentingnya mempertimbangkan karakteristik peserta didik dalam pengembangan dan evaluasi instrumen pendidikan agar lebih adil dan representatif.