ABSTRAK Kondisi topografi lereng dapat terjadi secara alami atau sengaja dibuat oleh manusia untuk tujuan tertentu. Tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di lereng alam maupun buatan manusia. Bencana ini muncul karena pergerakan massa batuan, tanah atau puing – puing dari material lereng (campuran tanah dan batuan) menuruni lereng. Kondisi rapid drawdown pada sungai umumnya terjadi pada saat pemeliharaan bendungan atau tanggul dengan cara seperti pengelontoran sedimen (flushing). Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan studi literatur. Data yang diambil merupakan data sekunder yaitu sumber data yang diperoleh melalui perantara atau tidak dilakukan sendiri oleh peneliti melainkan berasal dari data Laboratorium Mekanika Tanah dan Geologi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Data sekunder ini berupa studi literatur, data topografi untuk melihat bentuk lereng sungai, data curah hujan, dan data tanah untuk mengetahui sifat fisis (kohesi dan sudut geser) yang digunakan dalam analisis stabilitas lereng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai FS sebesar 1,086, yang berarti lereng berada dalam kondisi tidak stabil karena kurang dari batas aman 1,25. Analisis pada kondisi rapid drawdown menunjukkan lereng tidak stabil, dengan nilai FS sebesar 0,935. Kondisi rapid drawdown yang disertai infiltrasi air hujan merupakan kondisi paling kritis, dengan nilai FS hanya 0,813. Sebaliknya kondisi slow drawdown, baik tanpa maupun dengan hujan, menunjukkan nilai FS di atas 1,25 yang berarti lereng dalam keadaan stabil.Perkuatan menggunakan sheet pile menghasilkan nilai FS sebesar 2,515 sedangkan perkuatan dengan dinding penahan tanah (DPT) menghasilkan nilai FS 2,055. Keduanya terbukti efektif meningkatkan stabilitas lereng. Kata Kunci : Eksisting, Rapid Drawdown, Flushing