Salah satu fenomena psikologis yang umum dialami oleh santri baru di pondok pesantren adalah penyakit rumah tangga, yang ditandai dengan perasaan rindu, cemas, dan sedih yang berlebihan terhadap lingkungan dan rumah mereka yang lama. Jika tidak ditangani dengan benar, kondisi ini dapat menghambat proses adaptasi, menurunkan konsentrasi belajar, dan berpotensi mengganggu kesehatan mental santri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi seberapa efektif konseling kelompok sebagai metode intervensi dalam meningkatkan kemampuan santri untuk beradaptasi dan menangani homesickness. Kajian ini menggunakan analisis literatur dari berbagai jurnal ilmiah dan buku yang relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa konseling kelompok mengurangi perasaan terisolasi dan abnormalitas dengan memberi santri tempat aman untuk berbagi pengalaman dan perasaan yang sama. Faktor-faktor seperti mendapatkan dukungan sosial, belajar keterampilan koping, dan normalisasi perasaan homesickness terbangun secara alami melalui dinamika kelompok. Terbukti bahwa guru dapat mengubah pandangan negatif, membangun pertemanan baru, dan membuat strategi adaptif untuk lingkungan pesantren dengan menggunakan metode seperti restrukturasi kognitif, role-play, dan pelatihan keterampilan sosial dalam setting kelompok. Kajian ini menemukan bahwa konseling kelompok, yang menggunakan kekuatan kelompok sebaya sebagai alat terapeutik, merupakan metode yang efektif dan berhasil untuk meningkatkan adaptasi santri. Disarankan agar program konseling kelompok yang terstruktur dan berkelanjutan dimasukkan ke dalam layanan bimbingan dan konseling di pondok pesantren untuk mengurangi efek negatif homesickness dan mendukung prestasi akademik dan psikososial santri.