ABSTRAK Taman Mumbara merupakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada di RT 16, Banyumeneng, Sleman, Yogyakarta. Taman tersebut menjadi tempat rekreasi masyarakat lokal sambil melihat kereta api melintas. Peningkatan pengunjung memicu munculnya pedagang makanan di sekitar taman. Beberapa permasalahan yang muncul adalah rendahnya partisipasi warga dan pengunjung dalam memelihara taman. Akibatnya, banyak tanaman yang tidak terawat, serta sampah yang dibuang tidak pada tempatnya. Selain itu, akses ke taman tidak ramah bagi penyandang disabilitas. Untuk itu, tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta telah melaksanakan lima program. Program awal yang sudah dilaksanakan adalah edukasi tentang pentingnya RTH yang dihadiri oleh 50 warga. Pemahaman warga tentang RTH meningkat sebesar 24%. Program selanjutnya meliputi peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan RTH, serta peningkatan fungsi, estetika, dan aksesibilitas RTH. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi (1) pendampingan penanaman dan perawatan RTH melalui kerja bakti oleh 45 warga, (2) sosialisasi tata tertib pengunjung melalui papan informasi dan rambu-rambu edukasi, (3) penambahan fasilitas bermain anak dan tempat sampah, (4) penataan akses RTH agar ramah penyandang disabilitas, serta pemasangan pagar pengaman. Evaluasi dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepuasan dan meminta umpan balik dari para pengurus RT 16 selaku mitra. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa tingkat kepuasan mitra secara keseluruhan sangat tinggi (100%). Kesadaran pengunjung dan penjual meningkat, hal ini dibuktikan dengan kondisi taman yang selalu bersih. Kata kunci: Ruang Terbuka Hijau; partisipasi masyarakat; fungsi; estetika; aksesibilitas taman ABSTRACTMumbara Park is a Green Open Space (RTH) located in RT 16, Banyumeneng, Sleman, Yogyakarta. The park serves as a recreational spot for locals, offering a unique experience of watching trains pass by. As visitor numbers grow, food vendors have begun setting up around the park. Some of the issues that have arisen include low participation by residents and visitors in maintaining the park. As a result, many plants are neglected, and trash is misplaced. Additionally, access to the park isn't disability-friendly. To address these issues, the Community Service Team from Universitas Muhammadiyah Yogyakarta launched five programs. The first event was an educational session on the importance of RTH, attended by 50 residents, which increased their understanding of RTH by 24%. Further initiatives focused on boosting community involvement in RTH management and enhancing its functionality, aesthetics, and accessibility. Activities included (1) guided planting and maintenance through community clean-up events with 45 residents, (2) Visitor guidelines posted on info boards and educational signs, (3) adding children's play facilities and trash bins, and (4) Disability-friendly access improvements and safety fencing installation. Evaluations involved satisfaction surveys and feedback from RT 16 management. Results showed extremely high overall satisfaction (100%). Visitor and vendor awareness has risen, reflected in the park's consistently clean condition. Keywords: Green Open Space; community participation; the park's function; aesthetics; accessibility.