Penelitian ini mengkaji isu krusial dalam pendidikan tinggi, yaitu pengembangan nilai kejujuran dan keberanian sebagai bagian dari pendidikan karakter di lingkungan kampus. Relevansi isu ini semakin meningkat seiring pesatnya perkembangan teknologi dan tingginya kompetisi akademik yang memunculkan berbagai tantangan moral, seperti plagiarisme, manipulasi data, serta ketakutan mahasiswa untuk menyuarakan kebenaran. Meskipun pendidikan karakter dirancang sebagai benteng moral, implementasinya di banyak perguruan tinggi masih bersifat formalitas dan belum sepenuhnya membentuk budaya akademik yang menumbuhkan integritas. Karena itu, penelitian ini berupaya memahami proses internalisasi nilai kejujuran dan keberanian melalui pengalaman akademik, peran keteladanan dosen, serta dukungan institusional. Pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis digunakan untuk menggali pengalaman subjektif mahasiswa dan dosen. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 10 mahasiswa dan 6 dosen, observasi kegiatan akademik maupun organisasi kemahasiswaan, serta analisis dokumen seperti kurikulum dan pedoman etika akademik. Analisis dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa yang mencakup proses kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan kejujuran dan keberanian moral dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni keteladanan dosen, pembelajaran reflektif, dan pengalaman sosial mahasiswa. Namun, penerapan nilai-nilai tersebut masih menghadapi hambatan berupa tekanan akademik dan kebijakan institusional yang belum konsisten. Penelitian ini menegaskan perlunya pendekatan integratif yang memadukan keteladanan, refleksi, dan dukungan kelembagaan agar kejujuran dan keberanian tidak sekadar diajarkan, melainkan menjadi budaya akademik yang hidup dan membentuk generasi berintegritas.