The increasing number of BPJS Ketenagakerjaan (Social Security Agency) participants demands innovative, efficient and accessible Old Age Security (JHT) disbursement services. However, implementation in the field still faces challenges in digital literacy and system stability. This study aims to analyze the effectiveness of three main JHT disbursement channels: the Jamsostek Mobile (JMO) application, the Lapak Asik website, and in-person customer service (Customer Service) in facilitating participant access at the Surabaya Karimunjawa Branch Office. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through in-depth interviews and observations of purposively selected informants, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The study findings revealed that the Lapak Asik website proved most effective in expediting the administrative process for tech-savvy participants, while the JMO application offered the highest access flexibility, although it still faced challenges with data verification. Conversely, in-person service remains a crucial pillar for ensuring inclusive services for elderly participants or those experiencing digital barriers. The main conclusion of this study confirms that the integration of these three channels creates a complementary service ecosystem, but requires strengthening digital infrastructure and mentoring strategies to achieve optimal public service effectiveness for all participant segments. ABSTRAK Peningkatan jumlah peserta BPJS Ketenagakerjaan menuntut adanya inovasi layanan pencairan Jaminan Hari Tua (JHT) yang efisien dan mudah diakses, namun implementasi di lapangan masih dihadapkan pada kendala literasi digital dan stabilitas sistem. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas tiga kanal utama pencairan JHT aplikasi Jamsostek Mobile (JMO), situs web Lapak Asik, dan layanan tatap muka (Customer Service) dalam memfasilitasi akses peserta di Kantor Cabang Surabaya Karimunjawa. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap informan yang dipilih secara purposive, kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa situs web Lapak Asik terbukti paling efektif dalam mempercepat proses administrasi bagi peserta yang melek teknologi, sedangkan aplikasi JMO menawarkan fleksibilitas akses tertinggi meski masih terkendala isu verifikasi data. Di sisi lain, layanan tatap muka tetap menjadi pilar krusial untuk menjamin inklusivitas layanan bagi peserta lansia atau mereka yang mengalami hambatan digital. Simpulan utama studi ini menegaskan bahwa integrasi ketiga kanal tersebut menciptakan ekosistem pelayanan yang saling melengkapi, namun memerlukan penguatan infrastruktur digital dan strategi pendampingan guna mencapai efektivitas layanan publik yang optimal bagi seluruh segmen peserta.