Effective inventory management is a vital element in maintaining operational stability and liquidity for distribution companies in the digital economy. This research is motivated by the urgency of improving warehouse governance at PT Indobismar Surabaya, which faces significant challenges such as mismatched stock data between the Accurate system and physical conditions, errors in serial number recording, and the accumulation of slow-moving goods. This study aims to analyze the root causes of these problems to improve procurement accuracy. Using descriptive qualitative methods, data collection was conducted through participant observation, semi-structured interviews with warehouse staff, and documentation. The research findings indicate that inefficiencies are caused by the dominance of manual procedures in stocktaking, weak verification of incoming goods, and a lack of data-driven planning. As a strategic solution, this study recommends strengthening internal controls through standardization of procedures, optimization of information system features to reduce manual intervention, and the application of quantitative methods such as Economic Order Quantity (EOQ) and FSN (Fast, Slow, Non-moving) classification analysis. Implementation of these measures is expected to improve inventory data accuracy, minimize financial losses due to stock discrepancies, and ensure sustainable procurement efficiency. ABSTRAKEfektivitas pengelolaan persediaan merupakan elemen vital dalam menjaga stabilitas operasional dan likuiditas perusahaan distribusi di era ekonomi digital. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh urgensi perbaikan tata kelola gudang di PT Indobismar Surabaya, yang menghadapi kendala signifikan berupa ketidaksesuaian data stok antara sistem Accurate dan kondisi fisik, kesalahan pencatatan serial number, serta penumpukan barang slow moving. Studi ini bertujuan menganalisis akar permasalahan tersebut untuk meningkatkan ketepatan pengadaan. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur dengan staf gudang, dan dokumentasi. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa inefisiensi disebabkan oleh dominasi prosedur manual dalam stock opname, lemahnya verifikasi barang masuk, serta kurangnya perencanaan berbasis data. Sebagai solusi strategis, penelitian ini merekomendasikan penguatan pengendalian internal melalui standardisasi prosedur, optimalisasi fitur sistem informasi untuk mengurangi intervensi manual, serta penerapan metode kuantitatif seperti Economic Order Quantity (EOQ) dan analisis klasifikasi FSN (Fast, Slow, Non-moving). Implementasi langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi data persediaan, meminimalkan kerugian finansial akibat selisih stok, serta menjamin efisiensi pengadaan barang secara berkelanjutan.