Manajemen kualitas air merupakan faktor penentu keberhasilan budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei). Pada sistem budidaya intensif, kualitas air rentan mengalami penurunan akibat fluktuasi suhu, perubahan salinitas, akumulasi bahan organik, serta peningkatan senyawa nitrogen anorganik yang berpotensi menurunkan oksigen terlarut. Kondisi tersebut dapat berdampak negatif terhadap pertumbuhan, kesehatan, dan kelangsungan hidup udang apabila tidak dikelola secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi kualitas air, mengidentifikasi potensi permasalahan lingkungan tambak, serta mengevaluasi penerapan manajemen kualitas air pada budidaya udang vaname di PT. Kebayoran Prima Bahari. Penelitian dilaksanakan di Desa Empan, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada Juli-Agustus 2024. Metode penelitian meliputi pengamatan langsung dan pengukuran parameter kualitas air pada sistem budidaya intensif. Parameter fisika berupa suhu dan oksigen terlarut diukur tiga kali sehari, sedangkan parameter kimia meliputi pH, salinitas, nitrat, nitrit, alkalinitas, amonium, fosfat, dan kalsium dianalisis dua kali dalam seminggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu air berkisar 27–31°C, kecerahan 25–60 cm, pH 7,5–8,5, oksigen terlarut >4 ppm, serta salinitas 20–34 ppt, yang seluruhnya berada dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan udang vaname. Konsentrasi nitrat tercatat di bawah ambang batas toleransi (<60 ppm), mengindikasikan kondisi perairan yang stabil dan mendukung proses budidaya. Dengan demikian, penerapan manajemen kualitas air di PT. Kebayoran Prima Bahari telah memenuhi standar budidaya berkelanjutan dan berperan dalam menjaga stabilitas lingkungan tambak.