Infark miokard akut (IMA) masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia, sehingga diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting untuk meningkatkan luaran pasien serta menurunkan risiko komplikasi fatal. Keterlambatan diagnosis IMA dapat menimbulkan berbagai konsekuensi serius, termasuk gagal jantung, aritmia maligna, dan peningkatan angka kematian, terutama pada pasien dengan manifestasi klinis yang atipikal. Oleh karena itu, evaluasi dini pada pasien dengan dugaan sindrom koroner akut merupakan komponen krusial dalam pelayanan kegawatdaruratan dan kardiovaskular. Biomarker jantung memiliki peran sentral dalam diagnosis IMA, dengan troponin jantung diakui sebagai indikator paling spesifik dan sensitif terhadap cedera miokard apabila dikombinasikan dengan penilaian klinis dan pemeriksaan elektrokardiografi. Namun, pemeriksaan troponin konvensional memiliki keterbatasan sensitivitas pada fase awal setelah onset gejala, sehingga berpotensi menyebabkan keterlambatan atau kegagalan diagnosis. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, dikembangkan pemeriksaan high-sensitivity cardiac troponin (hs-cTn) yang mampu mendeteksi kadar troponin sangat rendah serta perubahan dinamis kecil dalam interval waktu yang singkat. Penggunaan hs-cTn memungkinkan identifikasi cedera miokard lebih dini, bahkan dalam satu hingga tiga jam setelah terjadinya iskemia, serta mendukung penerapan algoritma diagnosis cepat seperti protokol rule-in dan rule-out 0/1 jam dari European Society of Cardiology. Strategi ini terbukti meningkatkan akurasi diagnosis, mempercepat pengambilan keputusan klinis, dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di unit gawat darurat. Meskipun demikian, peningkatan kadar hs-cTn juga dapat ditemukan pada kondisi non-iskemik, seperti penyakit ginjal kronik, gagal jantung, sepsis, dan takiaritmia. Oleh karena itu, interpretasi hasil hs-cTn harus dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan gambaran klinis, perubahan elektrokardiografi, serta pemeriksaan troponin serial. Tinjauan ini membahas peran, manfaat, keterbatasan, dan implikasi klinis hs-cTn dalam diagnosis dini infark miokard akut.