Perubahan kepemimpinan dalam pendidikan Islam pada era digital menuntut hadirnya pola pikir yang adaptif, visioner, dan berakar pada nilai-nilai keislaman. Penelitian ini menganalisis konsep kepemimpinan pendidikan Islam di era digital melalui perspektif akal cerdas Buya Hamka, seorang ulama dan intelektual Indonesia yang pemikirannya tetap relevan hingga saat ini. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data primer dikumpulkan dari karya-karya Buya Hamka, terutama Tafsir Al-Azhar, sementara data sekunder berasal dari jurnal, buku, dan artikel relevan tentang kepemimpinan transformasional dan pendidikan Islam di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep akal cerdas Buya Hamka menekankan integrasi antara akal, iman, dan akhlak sebagai fondasi kepemimpinan yang efektif. Pemimpin pendidikan Islam di era digital harus memiliki karakteristik: takwa sebagai landasan spiritual, keberanian dalam mengambil keputusan, bijaksana dalam mengelola teknologi, serta memiliki visi yang jelas untuk memajukan pendidikan. Transformasi kepemimpinan pendidikan Islam memerlukan kemampuan mengintegrasikan teknologi digital dengan nilai-nilai Islam, mengatasi kesenjangan digital, dan memastikan mutu pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model kepemimpinan transformasional yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan pemikiran tokoh nasional, serta memberikan panduan praktis bagi pemimpin lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan era digital.