p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Surya Medika
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Variasi Slice Thickness dan Rekonstruks Increment Terhadap Informasi Citra Anatomi Pemeriksaa MSCT Stonografi pada Kasus Nephrolithiasis: Slice Thickness Variation and Increment Recnonstruction on Anatomic Image Information of MSCT Stonography Examination in Nephrolithiasis Cases da Costa, Augusta; Yuda Astina, Kadek; Purwa Darmita, I Made
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.8249

Abstract

Nephrolithiasis, atau batu ginjal, merupakan salah satu gangguan urologi yang umum dan membutuhkan diagnosis yang akurat. Multislice Computed Tomography (MSCT) Stonografi menjadi modalitas utama untuk mendeteksi batu ginjal. Kualitas citra anatomi yang dihasilkan MSCT sangat dipengaruhi oleh variasi slice thickness dan rekonstruksi increment, yang berperan penting dalam diagnosis klinis. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variasi slice thickness dan rekonstruksi increment terhadap informasi citra anatomi pada pemeriksaan MSCT stonografi pada kasus nephrolithiasis. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimental dengan desain one-shot case study. Sebanyak 10 pasien yang didiagnosis nephrolithiasis menjalani pemeriksaan MSCT stonografi dengan variasi slice thickness (1mm, 4mm, 5mm, dan 10mm) serta rekonstruksi increment (0,3mm, 1,6mm, 2,5mm, dan 3mm). Evaluasi informasi citra anatomi dinilai oleh dua radiolog menggunakan kuisioner yang mencakup enam kriteria anatomi: renal hilux, left ureter, perirenal fat, renal pelvis, calix, dan Gerota’s fascia. Analisis statistik dilakukan menggunakan Friedman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara variasi slice thickness dan rekonstruksi increment terhadap informasi citra anatomi P value 0.000 (p<0.05). Kombinasi slice thickness 1 mm dan rekonstruksi increment 0,3mm menghasilkan informasi citra anatomi yang paling optimal dengan mean rank tertinggi (4.00). Slice thickness 10mm dan rekonstruksi increment 3mm menghasilkan informasi citra anatomi terendah dengan mean rank terendah (1.00). Uji Friedman menunjukkan perbedaan signifikan pada setiap anatomi dengan p value 0.000. Kesimpulan Variasi slice thickness dan rekonstruksi increment berpengaruh signifikan terhadap informasi citra anatomi pada pemeriksaan MSCT stonografi. Kombinasi slice thickness 1 mm dan rekonstruksi increment 0,3mm direkomendasikan untuk menghasilkan informasi citra yang optimal dalam diagnosis nephrolithiasis.
Peran CT Dual Energy pada Pemeriksaan KNEE Joint Kasus Gout di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung: The Role of Dual-Energy Knee Joint Examination for Gout Cases at Santo Borromeus Hospital Bandung Barus, Sri Wahyuni; Astina, Kadek Yuda; Purwa Darmita, I Made
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.8307

Abstract

Latar Belakang: Gout adalah kondisi inflamasi kronis yang ditandai dengan deposisi kristal monosodium urat (MSU) di sendi, terutama pada lutut, menyebabkan nyeri, pembengkakan, dan peradangan. Dual-Energy CT (DECT) adalah teknik pencitraan non-invasif yang mampu mendeteksi kristal MSU dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi, terutama dalam diagnosis dini dan diferensiasi dari patologi sendi lainnya. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen di Istalasi Radiologi Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung. Fokus penelitian adalah pada pemeriksaan DECT sendi lutut pada pasien gout. Hasil: DECT pada lutut kanan menunjukkan beberapa deposit kecil kristal MSU pada struktur penting seperti tendon dan kartilago subchondral, tanpa kelainan tulang yang signifikan. DECT secara efektif membedakan deposit urat dari kalsium, mendukung penggunaannya dalam diagnosis dan manajemen gout. Kesimpulan: DECT adalah alat penting dalam mendiagnosis gout pada sendi besar seperti lutut, menawarkan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan modalitas pencitraan konvensional. Kemampuan DECT untuk memvisualisasikan dan mengkuantifikasi deposit MSU secara non-invasif memungkinkan intervensi terapeutik yang tepat waktu, sehingga meningkatkan hasil pasien.