Sirait, Rinto Francius
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Resiliensi Iman dalam Pembacaan Teologis Mazmur 46 Sirait, Rinto Francius
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.499

Abstract

Crisis is an inevitable part of modern life. In the current context—marked by a global pandemic, geopolitical conflicts, natural disasters, and increasing mental stress—Christian faith is often subjected to tremendous shocks. Psalm 46 offers a profound and contextual perspective on how God's people can remain steadfast in their faith when the world seems shaken from various sides. This study aims to explore the theological meaning of Psalm 46 through biblical exegesis, contextual hermeneutics, and pastoral reflection. The results of this study indicate that this Psalm is not only a beautiful poem of comfort but also a solid and hopeful statement of faith. God is portrayed as a protector, a present ruler, and a source of calm amid chaos. These findings emphasize the importance of a deep and resilient Christian spirituality, especially in times of global challenges and uncertainty. This study also highlights the church's role as a community that fosters the serenity of faith and spiritual solidarity. It offers a profound reflection on the faith responses of Christians today. By employing a theological interpretation that draws on linguistics, literature, systematic theology, and pastoral studies, this article demonstrates that Psalm 46 is not only spiritually relevant but also socially and pastorally relevant.     Abstrak Krisis merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan manusia modern. Dalam konteks kekinian—yang ditandai oleh pandemi global, konflik geopolitik, bencana alam, dan meningkatnya tekanan mental—iman umat Kristen sering kali mengalami guncangan yang luar biasa. Mazmur 46 menawarkan perspektif yang mendalam dan kontekstual tentang bagaimana umat Tuhan dapat tetap teguh dalam iman ketika dunia tampak terguncang dari berbagai sisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna teologis Mazmur 46 melalui pendekatan eksegesis biblika, hermeneutika kontekstual, dan refleksi pastoral. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa Mazmur ini tidak hanya merupakan puisi penghiburan yang indah, melainkan juga pernyataan iman yang kokoh dan penuh pengharapan. Allah digambarkan sebagai pelindung, penguasa yang hadir, dan sumber ketenangan dalam kekacauan. Temuan ini menegaskan bahwa spiritualitas Kristen yang mendalam dan tangguh sangat diperlukan, khususnya dalam menghadapi zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian global. Studi ini juga menyoroti peran gereja sebagai komunitas yang memfasilitasi ketenangan iman dan solidaritas spiritual, serta refleksi mendalam terhadap respons iman umat Kristen masa kini. Dengan menggunakan pendekatan multidisipliner yang melibatkan aspek linguistik, sastra, teologi sistematika, dan studi pastoral, artikel ini membuktikan bahwa Mazmur 46 tidak hanya relevan secara spiritual, tetapi juga sosial dan pastoral.   ]
Theologia resonantiae: Teologi perjanjian sebagai fondasi rekonsiliasi dan spiritualitas ketahanan mental lansia di era digital dalam perspektif Perjanjian Lama Novalina, Martina; Sirait, Rinto Francius
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1529

Abstract

Indonesia's growing elderly population reveals a crisis of relational disconnection with direct consequences for the mental and spiritual health of older adults. This article proposes Theologia Resonantiae as a theo-logical framework that positions reconciliation as a spirituality of mental resilience for the elderly in the digital era. Employing a qualitative-reflec-tive approach grounded in systematic theological library research, the ar-gument unfolds in two layers: first, a critical appropriation of Hartmut Rosa's resonance theory as a sociological diagnosis of elderly alienation as a crisis of covenantal resonance; and second, a constructive retrieval of Old Testament covenant theology, specifically berith, hesed, shema, zikaron, sha-lom, and teshuvah, as the canonical grammar of divine-human resonance that both precedes and theologically undergirds Rosa's insights, while pro-viding the deepest theological foundation for the pastoral care of the el-derly in the digital age. Theologia Resonantiae enriches pastoral theology by positioning covenantal reconciliation as a contextual spirituality of mental resilience for the elderly, and recommends pastoral models grounded in relational presence, meaningful participation, and inclusive digital spaces rooted in the hesed of the God of Israel.   Abstrak Peningkatan populasi lansia di Indonesia mengungkapkan krisis keterputusan relasional yang berdampak langsung pada kesehatan mental dan spiritual lansia. Artikel ini mengusulkan Theologia Resonantiae sebagai kerangka teologis yang menempatkan rekonsiliasi sebagai spiritualitas ketahanan mental lansia di era digital. Dengan pendekatan kualitatif-reflektif berbasis studi pustaka teologis sistematis, argumen dikembangkan dalam dua lapisan: pertama, apropriasi kritis teori resonansi Hartmut Rosa seba-gai diagnosis sosiologis atas alienasi lansia sebagai krisis resonansi perjan-jian; dan kedua, penggalian teologi perjanjian dalam Perjanjian Lama, khu-susnya berith, hesed, shema, zikaron, shalom, dan teshuvah, sebagai tata bahasa kanonik resonansi ilahi-manusiawi yang mendahului dan secara teologis menopang wawasan Rosa, sekaligus menyediakan fondasi teologis terda-lam bagi pastoral lansia di era digital. Theologia Resonantiae memperkaya teologi pastoral dengan menempatkan rekonsiliasi perjanjian sebagai spiritualitas ketahanan mental yang kontekstual bagi lansia dan merekomendasikan model pastoral berbasis kehadiran relasional, partisipasi bermakna, dan ruang digital inklusif yang berakar pada hesed Allah Israel.