Pendidikan Islam di masa kini menghadapi tantangan yang semakin rumit, seperti laju perkembangan globalisasi yang cepat, masuknya teknologi digital, hingga munculnya krisis moral di kalangan generasi muda. Dalam situasi ini, peran pendidik sangat penting dalam membentuk generasi Muslim yang memiliki kepribadian, visi, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan kemajuan zaman. Artikel ini bertujuan untuk membahas konsep pendidik yang ideal menurut Buya Hamka, seorang tokoh cendekiawan, intelektual, dan penulis Muslim Indonesia dari abad ke-20, yang gagasan dan pemikirannya memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, yaitu melalui analisis terhadap karya-karya utama Buya Hamka, seperti Tafsir al-Azhar, Tasawuf Modern, dan Lembaga Budi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis konten dan hermeneutika. Penelitian menunjukkan bahwa menurut Buya Hamka, seorang pendidik yang ideal adalah sosok yang mampu menggabungkan aspek spiritual, moral, intelektual, dan sosial. Seorang pendidik tidak hanya berfungsi sebagai guru, tetapi juga sebagai teladan, pembimbing, dan penggerak peradaban yang didasari oleh prinsip monoteisme dan karakter yang baik. Gagasan ini tetap relevan hingga saat ini, terutama di tengah generasi modern yang sangat akrab dengan teknologi namun rentan terhadap kebingungan terhadap nilai-nilai kehidupan. Keberlanjutan ide Hamka terletak pada penekanannya terhadap pentingnya kejujuran, moral, serta penguasaan ilmu yang bisa diintegrasikan dengan kebutuhan pendidikan di masa kini. Artikel ini memberikan kontribusi dalam memperkaya pembahasan tentang pendidikan Islam dengan menegaskan bahwa pemikiran klasik masih bisa menjadi dasar dalam membentuk generasi Muslim yang memiliki akhlak yang baik di tengah perubahan zaman.