Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Upaya Dalam Pemerataan Pendidikan di Daerah Terpencil: Efforts To Equalize Education In Remote Areas Indrayani, Ketut Aries; Musdarwinsyah; Werang, Basilius Redan
JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA Vol. 4 No. 3 (2025): JAKADARA: JURNAL EKONOMI, BISNIS, DAN HUMANIORA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jd.v4i3.4914

Abstract

Pendidikan adalah salah satu hal yag memegang peranan penting dalam siklus kehidupan manusia. Salah satu faktor utama yang menjadi ketimpangan yaitu belum meratanya akses pendidikan di Indonesia. Banyak daerah di Indonesia, khususnya di daerah terpencil dan tertinggal yang belum menikmati pendidikan yang serata dengan daerah-daerah lain. Studi ini bertujuan untuk mengetahui upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap ketimpangan pemerataan pendidikan di daerah terpencil di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan artikel ini yaitu menggunakan metode studi literatur mengenai peningkatan kesetaraan akses pendidikan di daerah terpencil. Zed dalam penelitian mengatakan bahwa sebuah metode studi literatur merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode pengumpulan data dalam pustaka, membaca dan mencatat, serta mengelola bahan penelitian. Hasil penelitian menjelaskan bahwa ketidakmerataan akses pendidikan di Indonesia, terutama di wilayah terpencil, telah berdampak luas pada keterbelakangan ekonomi dan ketimpangan sosial masyarakat. Upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi faktor-faktor penyebab pendidikan tidak merata di Indonesia meliputi meningkatkan kualitas dan kuantitas guru, membangun sekolah-sekolah di beberapa daerah terpencil, memberikan pendasaran untuk menjamin, memberikan dan melindungi hak-hak warga negara khususnya dalam dunia pendidikan sesuai dengan pasal 31 UUD NRI 1945 dan UU No 39 tahun 1999. Pemerintah bersama beberapa organisasi swasta telah berupaya mengurangi kesenjangan di daerah terpencil melalui berbagai program kebijakan, SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Tertinggal, Terpencil), peningkatkan produktivitas ekonomi dan kesejahteraan sosial dan Indonesia Mengajar. Dengan sinergi antara berbagai pihak, diharapkan ketimpangan pendidikan di Indonesia dapat berkurang, dan akses terhadap pendidikan yang berkualitas dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat, termasuk di daerah terpencil.
Pemanfaatan Rumah Pendidikan sebagai Wadah Pengembangan Profesional Guru dalam Manajemen Sekolah Indrayani, Ketut Aries; Yudana, I Made; Erni Sulindawati, Ni Luh Gede
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Februari - Maret 2026)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v7i2.7822

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan Rumah Pendidikan sebagai wadah pengembangan profesional guru dalam konteks manajemen sekolah. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana platform digital ini mendukung peningkatan kompetensi guru, memperkuat budaya kolaborasi, serta menyediakan data terintegrasi bagi kepala sekolah dalam perencanaan dan evaluasi program. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan studi literatur dan analisis dokumen kebijakan pendidikan. Data diperoleh dari sumber resmi Kemendikbudristek, jurnal pendidikan, serta laporan terkait transformasi digital di sektor pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Pendidikan, melalui layanan Ruang GTK, Rapor Pendidikan Daerah, dan Portal Satu Data, berperan penting dalam mendukung guru untuk belajar berkelanjutan, melakukan refleksi kompetensi, serta berbagi praktik baik melalui komunitas digital. Di sisi lain, kepala sekolah dapat memanfaatkan data terintegrasi untuk pengambilan keputusan berbasis bukti, sehingga manajemen sekolah menjadi lebih sistematis dan adaptif. Faktor pendukung implementasi meliputi kebijakan afirmatif Kemendikbud, akses teknologi, dan partisipasi aktif guru, sedangkan hambatan utama terletak pada keterbatasan literasi digital, infrastruktur di daerah 3T, serta resistensi sebagian guru terhadap perubahan.