Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Surya Muhammadiyah di Tanah Kaili, 1932-1982 Andrayani, Utari; Abd. Rahim Yunus; Nurkhalis A. Ghaffar
JURNAL JAWI Vol 8 No 2 (2025): Islam, Social Dynamics, and Modernity
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/00202582834700

Abstract

Penelitian ini mengkaji Sejarah Muhammadiyah di Tanah Kaili pada tahun 1932-1982, dengan menggunakan metode sejarah. Artikel ini menggunakan pendekatan historis dan sosiologi. Pendekatan Historis digunakan untuk melacak sejarah dan perkembangan organisasi Muhammadiyah di Tanah Kaili, sedangkan pendekatan sosiologi digunakan untuk memahami serta mendalami keadaan sosial yang terjadi dalam lingkungan organisasi Muhammadiyah. Teknik pengumpulan data yaitu sumber lisan dan tulisan dengan dikategorikan pada sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian ini menemukan dua hal, pertama organisasi Muhammadiyah berdiri di Tanah Kaili pada tahun 1932 di Kabupaten Donggala, menyusul di Wani pada tahun 1933 dan di Kota Palu pada tahun 1938 yang berstatus cabang Muhammadiyah. Setelah itu, berkembang menjadi pimpinan Wilayah Muhammadiyah pada tahun 1966 setelah para pengurus Muhammadiyah diketiga wilayah tersebut mengikuti Muktamar Muhammadiyah di Makassar. Kedua, persebaran Muhammadiyah ke berbagai daerah tidak mengalami kendala karena didukung oleh para tokoh-tokoh penting. Ketiga, setelah terbentuknya cabang-cabang hal ini menjadi mendorong pembentukan Muhammadiyah Sulawesi Tengah. Peran Muhammadiyah dalam peradaban Islam di Teluk Palu melalui pendirian sekolah hingga perguruan tinggi dengan tujuan menciptakan generasi bangsa yang cerdas, menyediakan tempat tinggal bagi anak yatim, membangun masjid sebagai pusat ibadah dan membina umat, serta menyebarkan dakwah Islam, oleh karena itu organisasi Muhammadiyah berhasil mengubah persepsi awal masyarakat yang sempat meragukan eksistensinya, menjadi organisasi Islam yang diterima dan mampu berkembang secara berkelanjutan hingga masa kini di Tanah Kaili.