Latar belakang. Malnutrisi sering terjadi pada pasien kanker anak dan telah diketahui sebagai faktor risiko kekambuhan dan kelangsungan hidup. Mempertahankan status gizi yang tepat dianggap sebagai persyaratan tambahan untuk hasil terapi yang optimal. Oleh karena itu, perlu untuk mencatat status gizi dan memberikan intervensi dini untuk hasil yang lebih baik dari pasien leukemia anak terutama di Indonesia. Tujuan. Menilai status gizi dan perubahannya pada anak dengan leukemia limfoblastik akut pada titik waktu tertentu selama menjalani kemoterapi. Metode. Kami melakukan penelitian retrospektif pada pasien leukemia limfoblastik akut di Rumah Sakit Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dari Januari 2022 hingga Desember 2023, dengan mengumpulkan data epidemiologi dan antropometri dari catatan medis pada empat waktu: saat diagnosis, di tengah kemoterapi intensif, di akhir kemoterapi intensif, dan di tengah terapi pemeliharaan.Hasil. Tiga puluh tujuh pasien diteliti, dengan mayoritas (64,9% laki-laki, median 7 tahun, 67,6% leukemia berisiko tinggi) memiliki berat badan normal saat awal kemoterapi. Persentase pasien kelebihan berat badan/obesitas meningkat dari 8,1% saat diagnosis menjadi 35% di akhir terapi intensif, dengan perbedaan signifikan pada berat badan terhadap tinggi badan (p<0,001). Selain itu, terjadi peningkatan signifikan pada berat badan dan indeks massa tubuh, serta retardasi pertumbuhan, terutama pada pasien leukemia berisiko tinggi (p=0,016).Kesimpulan. Anak-anak yang diobati untuk ALL memiliki risiko obesitas yang lebih tinggi dan secara bersamaan mengalami retardasi pertumbuhan. Intervensi nutrisi harus dilakukan pada semua pasien anak untuk mempertahankan status nutrisi yang tepat, menghindari konsekuensi negatif dari kelebihan gizi, meminimalkan gangguan pertumbuhan, dan mengoptimalkan hasil pengobatan dini.