Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang sepenuhnya digital, serba cepat, dan sarat informasi, sehingga menghadapi berbagai tantangan kompleks seperti polarisasi, stereotip, dan menurunnya kepekaan sosial. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang multikultural, diperlukan penguatan karakter melalui Literasi Budaya dan Kecerdasan Empati untuk menjaga kerukunan sosial. Literasi Budaya membantu Gen Z memahami nilai, praktik, dan sejarah budaya secara kritis, sedangkan Empati bertindak sebagai penghubung emosional yang mendorong pemahaman tersebut menuju tindakan sosial yang inklusif, toleran, dan beretika. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis jurnal, buku, serta penelitian relevan lainnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa dominasi media sosial, algoritma ruang gema, dan meningkatnya misinformasi menjadi tantangan besar dalam mengembangkan literasi budaya dan empati. Oleh karena itu, penguatan karakter Gen Z perlu melibatkan kolaborasi keluarga, komunitas, serta pemanfaatan media digital secara kreatif melalui kegiatan lintas budaya, dialog sosial, dan produksi konten berbasis keberagaman. Secara keseluruhan, integrasi Literasi Budaya dan Kecerdasan Empati berpotensi membentuk Generasi Z yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, serta mampu menjadi agen perdamaian dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.