This study analyzes the strategy for improving the professionalism of personnel at the Indonesian Air Force Personnel Maintenance Service (Diswatpersau) and the strategy for utilizing the Sibekor application to support the procurement performance of Field Personal Equipment (Kaporlap). Using a qualitative approach, in-depth interviews with eight informants across levels were analyzed using thematic analysis. The findings indicate seven mutually reinforcing dimensions of professionalism (competence-expertise, dedication-loyalty, responsibility, work ethic, creativity-innovation, adaptability, efficiency-effectiveness). Meanwhile, key gaps lie in unequal digital literacy, the lack of institutionalization of innovation, and the consistency of data-based evaluation. In the technological realm, Sibekor improves traceability, transparency, and service speed, but the impact is uneven due to device/network limitations, suboptimal cross-system integration, and variations in user capacity. Recommendations include implementative steps for user staff, namely ensuring the accuracy and completeness of procurement data through double-checking and SOP compliance; conducting regular monitoring to reduce delays; participating in socialization and creating brief guides to maximize the use of application features; and strengthening cross-departmental coordination through official communication channels and recording follow-up actions in the application log.Penelitian ini menganalisis strategi peningkatan profesionalisme personel Dinas Perawatan Personel TNI Angkatan Udara (Diswatpersau) dan strategi pemanfaatan aplikasi Sibekor untuk mendukung kinerja pengadaan Kelengkapan Perorangan Lapangan (Kaporlap). Menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap delapan informan lintas jenjang, data diolah dengan analisis tematik. Temuan menunjukkan tujuh dimensi profesionalisme yang saling menguatkan (kompetensi-keahlian, dedikasi-loyalitas, tanggung jawab, etika kerja, kreativitas-inovasi, kemampuan beradaptasi, efisiensi-efektivitas). Sementara celah kunci berada pada literasi digital yang belum merata, belum terinstitusionalisasinya inovasi, serta konsistensi evaluasi berbasis data. Pada ranah teknologi, Sibekor meningkatkan keterlacakan, transparansi, dan kecepatan layanan, namun dampaknya belum merata akibat keterbatasan perangkat/jaringan, integrasi lintas sistem yang belum optimal, dan variasi kapasitas pengguna. Rekomendasi mencakup langkah implementatif bagi staf pengguna, yaitu memastikan ketepatan dan kelengkapan data pengadaan melalui pengecekan ganda dan kepatuhan SOP; melakukan monitoring berkala untuk mengurangi keterlambatan; mengikuti sosialisasi serta membuat panduan singkat guna memaksimalkan pemanfaatan fitur aplikasi; dan memperkuat koordinasi lintas bagian melalui jalur komunikasi resmi dan pencatatan tindak lanjut pada log aplikasi.