Tasawuf, sebagai dimensi mistik dalam Islam, memberikan kerangka yang komprehensif untuk memahami psikologi manusia serta memajukan kesejahteraan emosional dan spiritual. Studi ini menelaah tasawuf sebagai bentuk psikoterapi Islam yang mengintegrasikan transformasi spiritual (tazkiyah al-nafs) dengan penyembuhan emosional. Berakar pada konsep-konsep Qur’ani tentang diri (nafs), hati (qalb), dan ruh (ruh), psikologi tasawuf memandang manusia sebagai makhluk multidimensional yang penderitaannya bersumber dari ketidakseimbangan spiritual, bukan semata-mata disfungsi psikologis. Melalui penyucian diri dan dzikir kepada Allah (dhikr), individu menempuh perjalanan transformatif menuju keharmonisan batin dan kedekatan dengan Tuhan. Dengan menelaah literatur klasik tasawuf terutama karya Al-Ghazali, Rumi, dan Ibn Arabi serta teori terapi kontemporer, penelitian ini mengidentifikasi kesamaan antara praktik spiritual sufi dan metode psikologis modern. Teknik seperti muraqabah (kesadaran penuh), muhasabah (evaluasi diri), dan dhikr (pengulangan meditatif) memiliki kemiripan dengan praktik mindfulness, restrukturisasi kognitif, dan regulasi emosi dalam psikoterapi. Namun, tasawuf melampaui model terapi sekuler dengan menyoroti dimensi metafisik dari penderitaan manusia dan menekankan tujuan akhir yaitu transendensi diri. Penelitian ini berargumen bahwa tasawuf dapat berfungsi sebagai pendekatan psikospiritual integratif yang menyelaraskan iman, emosi, dan akal. Dari perspektif sufi, penderitaan emosional bukanlah patologi yang harus dihapuskan, melainkan tanda keterputusan dari esensi ilahi manusia. Penyembuhan, dengan demikian, melibatkan kebangkitan hati dan pemulihan hubungan dengan Tuhan. Dalam dunia modern yang ditandai oleh keterasingan dan kekosongan batin, jalan sufi menawarkan model psikoterapi yang berlandaskan spiritualitas, yang mendorong penyembuhan holistik, kesadaran diri, dan keutuhan manusian.