Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Humanity and the Self: Sufi Approaches to Psychological and Spiritual Healing in Islam Sukirman Sukirman; Ahmad Zainuri; Parasih Parasih
Seminar Nasional Teknologi dan Multidisiplin Ilmu (SEMNASTEKMU) Vol. 5 No. 1 (2025): SEMNASTEKMU
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/zavdej95

Abstract

Penelitian ini mengkaji keterkaitan antara konsep kemanusiaan dan diri dalam pemikiran tasawuf sebagai kerangka psikologis dan spiritual yang terintegrasi untuk penyembuhan dalam Islam. Dalam konteks modern, manusia sering mengalami fragmentasi eksistensial yang ditandai oleh kekosongan batin, kecemasan, dan kehilangan orientasi spiritual. Psikologi modern, meskipun menawarkan metode ilmiah untuk pemulihan emosional, sering kali mengabaikan dimensi transendental dari eksistensi manusia. Tasawuf, sebagai dimensi spiritual Islam, memberikan pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek psikologis, etis, dan spiritual dalam perkembangan manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, menelaah teks-teks klasik dan kontemporer sufistik, khususnya karya Al-Ghazali, Rumi, dan Ibn ‘Arabi. Para tokoh tersebut memaknai penyembuhan sebagai proses tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa), muraqabah (kesadaran spiritual), dan mahabbah (cinta ilahi), yang bersama-sama menuntun individu menuju transformasi diri dan penyatuan dengan Tuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyembuhan dalam tasawuf berakar pada proses penyucian ego (nafs al-ammārah), pengembangan kesadaran spiritual, serta penyesuaian diri dengan sifat-sifat ketuhanan. Proses ini memulihkan keharmonisan batin dan meningkatkan kesejahteraan psikologis melalui kepasrahan, dzikir, dan cinta kepada Allah. Berbeda dengan psikoterapi sekuler yang berfokus pada pengaturan perilaku dan emosi, model sufi menekankan dimensi metafisik dari eksistensi manusia, memandang penderitaan sebagai sarana penyucian spiritual, bukan sekadar gangguan psikologis. Dengan demikian, tasawuf menawarkan paradigma penyembuhan yang dinamis dengan menjembatani psikologi, teologi, dan mistisisme. Tasawuf menafsirkan kembali makna kesehatan, bukan hanya sebagai ketiadaan penderitaan, tetapi sebagai realisasi potensi jiwa untuk memantulkan keindahan dan kasih sayang ilahi. Pada akhirnya, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan sufi terhadap penyembuhan menghadirkan kerangka abadi yang mengintegrasikan dimensi moral, emosional, dan spiritual manusia, serta menawarkan jalan alternatif menuju kedamaian batin (sukūn al-qalb) dan realisasi diri sejati dalam hubungan dengan Tuhan.