Bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Bener Meriah menimbulkan gangguan signifikan terhadap aktivitas ekonomi daerah, khususnya pada sektor agribisnis yang menjadi penopang utama perekonomian masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kelumpuhan ekonomi pascabencana terhadap kinerja sektor agribisnis dari perspektif ekonomi manajerial. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui studi dokumentasi dan studi literatur yang bersumber dari laporan pemerintah, data agribisnis, serta publikasi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan infrastruktur dan terputusnya jalur distribusi menyebabkan terganggunya rantai pasok, penurunan kualitas produk, peningkatan biaya operasional, serta tekanan terhadap arus kas pelaku usaha agribisnis. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gagal kontrak dan memunculkan disparitas harga antara tingkat petani dan pasar luar daerah. Selain itu, lemahnya penerapan manajemen risiko, khususnya ketiadaan perencanaan cadangan (contingency plan), memperbesar dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh bencana. Oleh karena itu, percepatan pemulihan infrastruktur, stabilisasi pasar, serta dukungan kebijakan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor agribisnis pascabencana. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian ekonomi manajerial serta menjadi rujukan dalam perumusan strategi pemulihan ekonomi di wilayah rawan bencana.