Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi di abad ke-21 menuntut kualitas sumber daya manusia dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif, yang seringkali tidak terakomodasi oleh pendidikan konvensional. Menanggapi kebutuhan ini, pembelajaran STEM (Sains, Teknologi, Rekayasa, Matematika) muncul sebagai kerangka integratif, kemudian berkembang menjadi STEAM dengan penambahan unsur Seni (Art) untuk memperkaya dimensi kreativitas, estetika, dan inovasi desain. Studi ini menggunakan metode kajian pustaka sistematis, dengan mengumpulkan dan mensintesis literatur akademik dari berbagai database bereputasi, fokus pada konsep, implementasi, urgensi, karakteristik, prinsip, dan manfaat pembelajaran STEM/STEAM dalam pendidikan formal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa STEM dan STEAM berlandaskan pada teori konstruktivisme serta erat kaitannya dengan Project-Based Learning (PjBL) dan Problem-Based Learning (PBL), yang mendorong pengembangan Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan keterampilan abad ke-21 (4C). Setiap komponen (Sains, Teknologi, Rekayasa, Seni, Matematika) berkontribusi sinergis dalam proses pembelajaran untuk menciptakan solusi inovatif. Meskipun menghadapi tantangan seperti keterbatasan waktu, sarana, dan kompetensi guru, terdapat peluang besar yang dapat dimanfaatkan, termasuk antusiasme siswa dan fleksibilitas Kurikulum Merdeka, serta dukungan teknologi. Oleh karena itu, disarankan agar kolaborasi antar pemangku kepentingan diperkuat, serta solusi inovatif diterapkan untuk mengatasi tantangan dan memaksimalkan potensi STEM/STEAM, guna mewujudkan pendidikan yang relevan dan efektif bagi siswa. Bahasa Indonesia.