Divisi logistik dan pergudangan pada penyedia jasa 3PL menghadapi tantangan penempatan tenaga kerja yang masih sering ditentukan berdasarkan intuisi manajerial, bukan perhitungan kuantitatif atas beban kerja riil. Ketidaksesuaian ini berisiko menimbulkan overstaffing yang membebani biaya, atau understaffing yang memicu keterlambatan proses gudang. Artikel ini bertujuan menyintesis literatur mengenai penerapan metode Workload Analysis (WLA) dan pendekatan sejenis (FTE, SWAT, SNQ) dalam menentukan kebutuhan tenaga kerja, khususnya pada konteks gudang dan logistik, sebagai preliminary study bagi rencana skripsi mengenai analisis beban kerja karyawan gudang di divisi logistik PT XYZ. Penelusuran dilakukan melalui Google Scholar, Garuda Ristekdikti, dan basis data internasional terindeks Scopus dengan rentang terbit 2021-2025, menghasilkan 15 artikel primer yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil sintesis menunjukkan pola konsisten: ketidakseimbangan beban kerja (overload/underload) yang terukur secara kuantitatif umumnya direspons dengan rekomendasi penambahan atau redistribusi tenaga kerja. Namun ditemukan pula kontradiksi metodologis, yaitu sebagian studi menganggap WLA/FTE kuantitatif memadai, sementara studi lain mengombinasikannya dengan instrumen beban kerja subjektif/mental (SWAT, SNQ, NASA-TLX) karena beban fisik semata dinilai tidak menangkap keluhan pekerja secara utuh. Research gap utama yang teridentifikasi adalah minimnya studi WLA pada gudang 3PL yang melayani multi-klien dengan volume fluktuatif, serta absennya tinjauan literatur khusus yang menjembatani riset manpower-planning nasional dengan riset desain sistem order-picking internasional. Temuan ini menjadi dasar preliminary study bagi rencana skripsi penulis di PT XYZ.