Pendahuluan: Dermatitis atopik (DA) memiliki karakteristik pruritus, eritema, indurasi, skuama. Manifestasi klinis ini dapat pula ditemukan pada berbagai penyakit kulit yang menyerupai, terjadi bersamaan, atau merupakan komplikasi DA. DA awitan dewasa dapat menunjukkan variasi klinis yang tidak biasa. Kasus: Laki-laki berusia 36 tahun, mengeluhkan bercak kemerahan yang terasa gatal di badan dan ekstremitas sejak 6 bulan lalu. Keluhan disertai bercak tebal di kedua tungkai. Pasien memiliki riwayat asma serta riwayat akalasia dengan malnutrisi berat. Pasien awalnya didiagnosis dermatitis yang disebabkan defisiensi asam lemak esensial dengan infeksi sekunder, dermatitis numularis, liken simpleks kronikus, dan dermatitis seboroik. Setelah evaluasi lebih lanjut, pasien memenuhi kriteria Hanifin-Rajka disertai kadar IgE yang tinggi, sehingga ditegakkan diagnosis DA awitan dewasa. Diskusi: Laporan kasus ini menunjukkan penegakkan diagnosis DA awitan dewasa tipe generalisata berdasarkan klinis. Pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan diagnosis banding dermatitis kontak tidak dapat dilakukan karena pasien dalam terapi imunosupresan. Penatalaksanaan DA dilakukan secara sistematik disertai pemberian terapi sistemik. Kesimpulan: Penegakan diagnosis DA awitan dewasa berdasarkan klinis merupakan sebuah tantangan. Manifestasi klinis seringkali tidak sesuai dengan kriteria diagnosis yang umum digunakan terutama pada kasus de novo. Pemeriksaan penunjang seperti kadar IgE, eosinofil, uji kulit, dan biopsi kulit terkadang diperlukan untuk penegakan klinis secara tepat sehingga pasien dapat diberikan tata laksana yang sesuai.