Halim, Dionisius Ivan Yonathan
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Herpes Zoster dengan Manifestasi Eritema Multiforme Bulosa pada Pasien Geriatri Imunokompromais: Laporan Kasus Halim, Dionisius Ivan Yonathan; Legiawati, Lili; Yusharyahya, Shannaz Nadia; Astriningrum, Rinadewi
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 2 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i2.531

Abstract

   Pendahuluan: Herpes zoster (HZ) merupakan sekumpulan gejala dan manifestasi klinis yang disebabkan oleh reaktivasi varicella-zoster virus (VZV). Faktor predisposisinya antara lain: usia lanjut, keadaan imunokompromi, obat imunosupresif, keganasan, stres psikologis, trauma, dan tindakan pembedahan. Manifestasinya bervariasi, namun manifestasi eritema multiforme (EM) bulosa jarang dilaporkan. Kasus: Seorang perempuan berusia 65 tahun mengeluhkan bercak gatal pada kedua lengan dan tungkai sejak 3 hari yang lalu. Pasien sedang menjalani kemoterapi atas indikasi kanker payudara metastasis tulang dengan multikomorbid. Pada pemeriksaan ditemukan lesi target tipikal EM yang beberapa berkembang menjadi EM bulosa. Terdapat riwayat demam. Pasien ditatalaksana dengan kortikosteroid serta terapi simptomatik. Satu minggu kemudian ditemukan lenting berkelompok di lengan kiri atas sampai ke leher kiri sesuai dermatom C4 dan C7 yang disertai rasa nyeri dan terbakar. Kortikosteroid dihentikan dan diobati dengan valasiklovir 3 x 1000 mg selama 10 hari dan terapi simptomatik. Setelah 2 minggu terdapat perbaikan klinis dan gejala. Diskusi: Kasus HZ aberans dengan manifestasi EM bulosa dapat terjadi pada individu dengan komorbid dan keadaan imunokompromi. Pada pasien ini terdapat usia lanjut riwayat kanker payudara, obat kemoterapi, serta komplikasi infeksi sekunder pasca tindakan pembedahan. Manifestasi HZ mirip dengan EM minor karena ditemukannya lesi target tipikal pada kedua ekstremitas tanpa lesi mukosa. Perubahan perjalanan penyakit menjadi vesikel berkelompok sesuai dermatom, kemungkinan HZ aberans lebih dipertimbangkan. Kesimpulan: Herpes zoster dapat menimbulkan manifestasi EM. Terapi dengan obat antiviral menunjukkan perbaikan baik klinis maupun gejala. Kemungkinan manifestasi EM pada HZ harus dipertimbangkan untuk diagnosis dini dan tatalaksana efektif.
DERMATITIS ATOPIK TIPE LIKENOID GENERALISATA AWITAN DEWASA Aziza, Anggita Nur; Sukmara, Isni Maulina; Halim, Dionisius Ivan Yonathan; Budianti, Windy Keumala
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.542

Abstract

Pendahuluan: Dermatitis atopik (DA) memiliki karakteristik pruritus, eritema, indurasi, skuama. Manifestasi klinis ini dapat pula ditemukan pada berbagai penyakit kulit yang menyerupai, terjadi bersamaan, atau merupakan komplikasi DA. DA awitan dewasa dapat menunjukkan variasi klinis yang tidak biasa. Kasus: Laki-laki berusia 36 tahun, mengeluhkan bercak kemerahan yang terasa gatal di badan dan ekstremitas sejak 6 bulan lalu. Keluhan disertai bercak tebal di kedua tungkai. Pasien memiliki riwayat asma serta riwayat akalasia dengan malnutrisi berat. Pasien awalnya didiagnosis dermatitis yang disebabkan defisiensi asam lemak esensial dengan infeksi sekunder, dermatitis numularis, liken simpleks kronikus, dan dermatitis seboroik. Setelah evaluasi lebih lanjut, pasien memenuhi kriteria Hanifin-Rajka disertai kadar IgE yang tinggi, sehingga ditegakkan diagnosis DA awitan dewasa. Diskusi: Laporan kasus ini menunjukkan penegakkan diagnosis DA awitan dewasa tipe generalisata berdasarkan klinis. Pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan diagnosis banding dermatitis kontak tidak dapat dilakukan karena pasien dalam terapi imunosupresan. Penatalaksanaan DA dilakukan secara sistematik disertai pemberian terapi sistemik. Kesimpulan: Penegakan diagnosis DA awitan dewasa berdasarkan klinis merupakan sebuah tantangan. Manifestasi klinis seringkali tidak sesuai dengan kriteria diagnosis yang umum digunakan terutama pada kasus de novo. Pemeriksaan penunjang seperti kadar IgE, eosinofil, uji kulit, dan biopsi kulit terkadang diperlukan untuk penegakan klinis secara tepat sehingga pasien dapat diberikan tata laksana yang sesuai.