Farida R Wargadalem
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Faktor Penyebab Penurunan Popularitas Wisata Air Terjun Curug Embun Dwi Putri, Tamara; Farida R Wargadalem; M Taofik Kurohman
Jurnal Penelitian Ilmu Pariwisata Vol. 1 No. 2 (2025): Jurnal Penelitian Ilmu Pariwisata
Publisher : Institut Citra Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33862/nb9zwf32

Abstract

Curug Embun is a well-known natural tourist destination in Pagaralam City due to its pristine natural beauty and towering waterfall. However, in recent years, this destination has experienced a significant decline in visitors. This study aims to identify the factors causing the decline in visitor interest and formulate a sustainable development strategy to regain its popularity. The study was conducted using a qualitative approach through observation, interviews, documentation, and literature review. The results indicate that factors such as minimal supporting facilities, inadequate access, lack of promotion, limited government involvement, and weather influences are the main causes of the decline in tourist visits. This study concludes that the management of the Curug Embun tourist destination needs to be improved through facility improvements, digital promotion, and collaboration between the government, managers, and the local community so that this tourist attraction can regain its competitiveness with other destinations.
Kehidupan Masyarakat Tepi Sungai Dan Transformasi Sosial Di Baba Ong Boen Tjiet 3 – 4 Ulu Palembang Syarfinah, Raisah; Carissa Muthia Nadira; Farida R Wargadalem; Muhammad Taofik Kurohman
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13956

Abstract

Penelitian ini menganalisis transformasi sosial masyarakat tepi Sungai Musi di kawasan Baba Ong Boen Tjiet 3-4 Ulu Palembang. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sejarah sosial melalui observasi, wawancara mendalam dengan pengelola rumah heritage, pengemudi ketek, dan warga setempat, serta studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya transformasi multidimensional meliputi: (1) Pergeseran ekonomi dari basis maritim (perikanan dan transportasi air) ke sektor industri, jasa, dan pariwisata heritage; (2) Perubahan fungsi Sungai Musi dari jalur transportasi utama menjadi ruang wisata budaya; (3) Transformasi fisik lingkungan berupa pendangkalan sungai, pencemaran, dan pemadatan permukiman; (4) Akulturasi budaya yang melahirkan identitas hibrid "Baba Palembang" dengan keragaman agama namun tetap mempertahankan tradisileluhur; (5) Melemahnya solidaritas sosial seiring berkurangnya interaksi di ruang sungai. Studi ini menyimpulkan bahwa modernisasi dan pembangunan infrastruktur darat telah menggeser orientasi masyarakat dari berbasis sungai ke berbasis darat, dengan Rumah Baba Ong Boen Tjiet berperan sebagai simpul ekonomi kreatif baru sekaligus penjaga memori kolektif warisan budaya multikultural Palembang.
Transformasi Sungai Musi: Antara Jalur Maritim dan Krisis Ekologi dalam Kehidupan Masyarakat Pesisir Khoirunisa Az Zahra; Farida R Wargadalem; M Taofik Kurohman
SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sosmaniora.v5i1.6614

Abstract

The Musi River is the longest river in Sumatra Island with historical significance as a maritime trade route from the Sriwijaya Kingdom era to contemporary times. This research analyzes the transformation of the Musi River's function from a historical-ecological perspective and its impact on coastal communities. The study employs a qualitative approach with historical-descriptive methods through literature studies, field observations, and in-depth interviews. The findings indicate that the Musi River has experienced significant ecological degradation due to industrial pollution and domestic waste. Water quality parameters such as BOD, COD, and heavy metals exceed environmental standards. This transformation has caused economic degradation through declining fishery productivity, changes in fishermen's livelihoods, and loss of traditional maritime trade functions. Coastal communities face economic pressure, health problems, and limited access to clean water. Sustainable management of the Musi River encounters complex challenges including weak environmental law enforcement, limited waste treatment infrastructure, and low community participation. An ecosystem-based management approach integrating ecological, economic, and socio-cultural aspects through multi-stakeholder collaboration is required for the revitalization of the Musi River.
Perahu Tongkang dan Kehidupan Masyarakat Desa Kemang Bejalu Suheri Suheri; Farida R Wargadalem
PANALUNGTIK Vol. 6 No. 01 (2023): Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/panalungtik.2023.1684

Abstract

Abstract The problem in this paper is "What are the dynamics of boat building culture and the influence of barge building on the economic and social life of the Kemang Bejalu community?". This article aims "to explain the dynamics of boat-building culture and its influence on the economic and social life of the Kemang Bejalu community". The method used is the historical method, which consists of heuristic source criticism, interpretation and historiography. The results show that the construction of Barge boats must be connected to the urgent need of residents for water transportation facilities. They could fulfil this need because of the people from Meranjat Village, who were known to be experts in processing wood to make houses. They utilized this skill in building boats, and were successful. If initially it was just small boats and ketek, they began to develop barges as time progressed. The excellent quality of the boats made many people interested, both from this village and other villages, so slowly, Kemang Bejalu Village became synonymous with barge boat making. Significant developments occurred after 2010, marked by the use of generator engines, and the presence of highways also made the village grow. Lastly, the arrival of electricity in the area has made it easy for them to increase production. Marketing is also becoming more widespread and accessible by carrying out promotions through social media to reach various areas outside the district. The impact on economic life is that they can meet household needs and send their children to school so that some can reach university. The social field shows that kinship relationships are very prominent because they generally still have family relationships with the same job. The barge boat manufacturing industry has significantly improved the population's economy and harmonious relations between families and barge boat owners and workers. The obstacle they face is the increasing distance they need to get wood.   Abstrak Masalah dalam tulisan ini adalah “bagaimana dinamika budaya pembuatan perahu dan pengaruh pembuatan perahu tongkang terhadap kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Kemang Bejalu”. Dengan demikian, maka tujuan dari artikel ini adalah “untuk menjelaskan dinamika budaya pembuatan perahu dan pengaruhnya terhadap kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Kemang Bejalu”. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri dari heuristik kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasilnya menunjukkan bahwa pembuatan perahu tongkang tidak terlepas dari mendesaknya kebutuhan penduduk setempat akan sarana transportasi air. Kebutuhan itu dapat mereka penuhi karena adanya orang-orang dari Desa Meranjat yang terkenal ahli mengolah kayu untuk dijadikan rumah. Keahlian ini mereka manfaatkan dalam pembuatan perahu, dan berhasil. Jika awalnya hanya berupa perahu-perahu kecil dan ketek, maka pada perkembangannya mereka mulai mengembangkan perahu tongkang. Kualitas perahu yang baik membuat banyak yang berminat, baik dari desa tersebut maupun desa-desa lainnya, sehingga secara perlahan Desa Kemang Bejalu identik dengan pembuatan perahu tongkang. Perkembangan signifikan terjadi setelah tahun 2010, ditandai dengan penggunaan mesin genset, dan hadirnya jalan raya juga membuat desa itu makin berkembang. Terakhir masuknya listrik di daerah tersebut, sangat memudahkan mereka untuk menambah produksi. Pemasaran juga makin meluas, dan dipermudah dengan melakukan promosi melalui beberapa media sosial, sehingga menjangkau berbagai daerah di luar kabupaten tersebut. Pengaruhnya terhadap kehidupan ekonomi adalah mereka mampu memenuhi kebutuhan rumahtangga dan menyekolahkan anak-anak mereka hingga sebagian mampu mencapai perguruan tinggi. Bidang sosial menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan sangat menonjol karena umumnya mereka masih memiliki hubungan keluarga, dengan pekerjaan yang sama. Simpulannya adalah bahwa industri pembuatan perahu tongkang secara signifikan telah berhasil meningkatkan perekonomian penduduk dan hubungan yang harmonis antar keluarga dan pemilik serta pekerja perahu tongkang. Kendala yang mereka hadapi adalah makin jauhnya jarak yang mereka butuhkan untuk mendapatkan kayu.