Penelitian ini dilatar belakangi karena ada kesenjangan diantara regulasi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) PAI dengan realitas perilaku siswa; meskipun dimensi spiritual dan sosial telah ditetapkan secara jelas, masih banyak peserta didik yang mengabaikan ibadah dan menunjukkan degradasi sikap sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis problematika implementasi SKL PAI pada tingkat SMP, khususnya pada aspek sosial dan spiritual. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif kepustakaan (library research) dengan teknik analisis dokumen kurikulum, regulasi, dan sintesis literatur relevan. Temuan utama menunjukkan tiga problem krusial: (1) kesenjangan kognitif-afektif, di mana siswa unggul secara teoretis namun lemah dalam praktik; (2) keterbatasan metodologi guru yang cenderung monoton serta lemah dalam penilaian autentik; dan (3) faktor eksternal berupa disrupsi digital serta inkonsistensi pola asuh orang tua. Simpulan penelitian menegaskan bahwa kegagalan pencapaian SKL berakar pada lemahnya strategi internalisasi nilai dan kontrol lingkungan, bukan ketiadaan regulasi. Dampak penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi praktisi untuk merekonstruksi metode experiential learning serta memperkuat sinergi sekolah dan orang tua demi terciptanya ekosistem pendidikan yang konsisten dalam membentuk karakter religius siswa. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi analisis disrupsi digital dan inkonsistensi pola asuh sebagai variabel determinan yang mendefinisikan ulang kegagalan implementasi SKL PAI di era kontemporer.