Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Respons Al-Qur’an Terhadap Fenomena Toxic Positivity: Analisis Kritis Ayat-Ayat Ujian, Sabar dan Keseimbangan Emosi Jun Firmansyah; Afifah Nada ulhaq; Aldomi Putra
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3464

Abstract

Fenomena toxic positivity berkembang dalam masyarakat modern sebagai kecenderungan menuntut sikap berpikir positif secara berlebihan hingga mengabaikan realitas penderitaan, emosi negatif, dan proses psikologis manusiawi. Dalam konteks keislaman, sikap ini berpotensi bertentangan dengan nilai-nilai Al-Qur’an yang memandang ujian, kesabaran, dan keseimbangan emosi sebagai bagian integral dari kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respons Al-Qur’an terhadap fenomena toxic positivity melalui kajian kritis terhadap ayat-ayat yang berbicara tentang ujian (ibtilā’), sabar (ṣabr), dan pengelolaan emosi secara proporsional. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), menggunakan analisis tematik (tafsīr maudhu‘ī) terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan, serta didukung oleh literatur tafsir klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an secara tegas mengakui keberadaan penderitaan, kesedihan, dan kegelisahan sebagai bagian dari sunnatullah, serta tidak menuntut manusia untuk menutupi atau menafikan emosi negatif. Konsep sabar dalam Al-Qur’an tidak dimaknai sebagai penyangkalan emosi, melainkan sebagai sikap aktif dalam menghadapi ujian dengan kesadaran, keteguhan iman, dan keseimbangan emosional. Pembahasan ini menegaskan bahwa ajaran Al-Qur’an menawarkan paradigma kesehatan mental yang realistis dan humanis, berbeda dari toxic positivity yang cenderung menekan ekspresi emosi. Kesimpulannya, Al-Qur’an memberikan kerangka etis dan spiritual yang seimbang dalam menyikapi realitas hidup, dengan menempatkan emosi manusia sebagai bagian dari proses pembentukan keimanan dan kedewasaan spiritual.