Citarasu, Thavasimuthu
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFFICACY OF DIETARY SUPPLEMENTATION OF AMBON BANANA MIDRIB SIMPLICIA TO ENHANCE GROWTH PERFORMANCE, HEMATOLOGICAL PROFILE, IMMUNITY, AND SURVIVAL OF CATFISH CHALLENGED WITH Edwardsiella tarda Wahjuningrum, Dinamella; Nugroho, Riyanto; Yuhana, Munti; Citarasu, Thavasimuthu; Abdullah, Taufiq
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 3 (2025): September (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.3.2025.229-244

Abstract

Catfish (Clarias sp.) is a significant aquaculture species, but its production is often limited by Edwardsiella tarda infections, which cause substantial losses. Plant-derived alternatives such as banana midrib simplicia offer promising solutions to enhance fish health and reduce antibiotic dependence. This study investigated the effects of Ambon banana (Musa paradisiaca var. sapientum) midrib simplicia on growth performance, hematological parameters, immune responses, and resistance to E. tarda infection in catfish. A completely randomized design was used with five treatments and three replications, consisting of a positive control, a negative control, and commercial feed supplemented with 2% (B2), 3% (B3), and 4% (B4) banana midrib simplicia. The feeding trial lasted 30 days, after which fish were intramuscularly injected with E. tarda (10⁷ CFU mL⁻¹). Growth performance, hematological indicators (red blood cell count, hemoglobin concentration, hematocrit, and white blood cell count), immune responses (phagocytic and respiratory burst activities), and survival rate were evaluated. Dietary supplementation with banana midrib simplicia significantly improved growth performance, hematological parameters, immune responses, and survival in catfish challenged with E. tarda compared to the control groups. The optimal supplementation dose was 3%, providing the most significant improvement in growth, immunity, and survival. These findings highlight the potential of banana midrib as a functional feed additive derived from agricultural by-products to promote fish health and aquaculture productivity. Ikan lele (Clarias sp.) merupakan salah satu komoditas penting dalam akuakultur, namun produksinya sering terkendala oleh infeksi Edwardsiella tarda yang menyebabkan kerugian signifikan. Alternatif berbasis tanaman seperti simplisia pelepah pisang menawarkan solusi potensial untuk meningkatkan kesehatan ikan dan mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh simplisia pelepah pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum) terhadap kinerja pertumbuhan, parameter hematologis, respons imun, dan ketahanan terhadap infeksi E. tarda pada ikan lele. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, terdiri atas kontrol positif, kontrol negatif, serta pakan komersial yang disuplementasi simplisia pelepah pisang pada dosis 2% (B2), 3% (B3), dan 4% (B4). Uji pemberian pakan dilakukan selama 30 hari, kemudian ikan diinjeksi intramuskular dengan E. tarda (10⁷ CFU mL⁻¹). Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan, indikator hematologis (jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin, hematokrit, dan jumlah leukosit), respons imun (aktivitas fagositosis dan respiratory burst), serta tingkat kelangsungan hidup. Suplementasi pakan dengan simplisia pelepah pisang secara signifikan meningkatkan performa pertumbuhan, parameter hematologis, respons imun, dan kelangsungan hidup ikan lele yang diinfeksi E. tarda dibanding kelompok kontrol. Dosis optimal diperoleh pada suplementasi 3%, yang memberikan peningkatan terbesar pada pertumbuhan, imunitas, dan kelangsungan hidup. Temuan ini menunjukkan bahwa simplisia pelepah pisang memiliki potensi sebagai aditif pakan fungsional berbasis limbah pertanian untuk meningkatkan kesehatan ikan dan produktivitas akuakultur.
IMPROVEMENT OF PRODUCTION PERFORMANCE OF SOFT-SHELL CRAB CULTURE THROUGH DIETARY SUPPLEMENTATION OF HIGH DOSE OF PURSLANE IN RECIRCULATING AQUACULTURE SYSTEM USING APARTMENT BOX Effendi, Irzal; Putri, Risma Amelia; Wahjuningrum, Dinamella; Mulya, Muhammad Arif; Ansani Takwin, Bagus; Citarasu, Thavasimuthu
Jurnal Riset Akuakultur Vol 21, No 1 (2026): Maret (2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.21.1.2026.1-13

Abstract

The major constraints in soft-shell crab (Scylla serrata) culture are the irregular and low frequency of molting, which reduce production efficiency. Previous studies have shown that purslane (Portulaca oleracea) supplementation significantly improves molting and production performance of soft-shell crab cultured in an apartment box using a recirculating aquaculture system; however, evaluations at higher doses remain limited.  This study aimed to evaluate the effectiveness of dietary supplementation with purslane stems and young leaves and to determine the optimal dose to enhance soft-shell crab growth and molting. The study used a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replicates, namely P0 (yellowstripe scad without purslane), P60 (yellowstripe scad + 60 g kg-1 purslane), P70 (yellowstripe scad + 70 g kg-1 purslane), and P80 (yellowstripe scad + 80 g kg-1 purslane). The results showed that purslane supplementation significantly increased molting and improved growth performance (P < 0.05). Treatment P70 yielded the highest molting percentage of 76.6% and growth rate of 1.3 g day⁻¹. Meanwhile, the control treatment (P0) only achieved a molting percentage of 36.6% and a growth rate of 1.07 g day⁻¹. These findings indicate that purslane has a potential as a natural feed additive to enhance molting and growth performance in soft-shell crab culture. The dose of 70 g kg-1 feed can be recommended to achieve the best molting response of soft-shell crab reared in a recirculating aquaculture system using the apartment box. Kendala utama dalam budidaya kepiting soka (Scylla serrata) adalah proses molting yang tidak serempak dan frekuensinya yang rendah, sehingga menurunkan efisiensi produksi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa suplementasi krokot (Portulaca oleracea) dapat meningkatkan molting dan kinerja produksi kepiting soka yang dibudidayakan dalam sistem kotak apartemen berbasis resirkulasi; namun, evaluasi pada dosis yang lebih tinggi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas suplementasi batang dan daun muda tanaman krokot dalam pakan serta menentukan dosis optimal untuk meningkatkan pertumbuhan dan molting kepiting soka. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu P0 (ikan selar tanpa penambahan krokot), P60 (pakan ikan selar + 60 g kg-1 krokot), P70 (pakan ikan selar + 70 g kg-1 krokot), dan P80 (pakan ikan selar + 80 g kg-1 krokot). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi krokot secara signifikan meningkatkan molting dan kinerja pertumbuhan (P < 0,05). Perlakuan P70 menghasilkan persentase molting tertinggi sebesar 76,6%, dan laju pertumbuhan 1,3 g hari-1. Sementara itu, perlakuan kontrol (P0) hanya mencapai persentase molting sebesar 36,6% dan laju pertumbuhan sebesar 1,07 g. hari-1. Hasil ini menunjukkan bahwa tanaman krokot berpotensi sebagai bahan tambahan pakan alami untuk meningkatkan molting dan pertumbuhan pada budidaya kepiting soka. Dosis 70 g kg-1 pakan dapat direkomendasikan untuk menghasilkan respons molting terbaik pada kepiting soka yang dipelihara dalam sistem resirkulasi dengan metode kotak apartemen.