Latar Belakang: Di Indonesia, insidensi ketuban pecah dini, juga dikenal sebagai PPROM (preterm premature membranes rupture), mencapai 4,5% dari seluruh komplikasi kehamilan. Kondisi ini meningkatkan risiko infeksi intraamniotik sebesar lima belas hingga tiga puluh lima persen dan infeksi pascapersalinan sebesar lima belas hingga dua puluh lima persen. Sekitar 60% kasus ketuban pecah dini preterm disebabkan oleh infeksi bakteri ascending, yang meningkatkan mortalitas dan morbiditas ibu dan bayi. Dalam kasus ketuban pecah dini preterm, respons inflamasi pada chorion dan amnion menyebabkan pelepasan sitokin yang lebih besar, yang ditandai dengan peningkatan jumlah neutrofil. Rasio neutrofil-limfosit merupakan ukuran penting dari status inflamasi.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana rasio neutrofil-limfosit dan insidensi ketuban pecah dini preterm berhubungan satu sama lain.Metode: Studi cross-sectional ini melibatkan ibu hamil 37 minggu atau lebih yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta antara 1 Januari 2018 dan 31 Desember 2021.Hasil dan Pembahasan: Menurut hasil penelitian terhadap delapan puluh pasien, nilai AUC (area di bawah kurva) sebesar 0,902 menunjukkan bahwa kemampuan untuk memprediksi rasio neutrofil-limfosit (RNL) terhadap kejadian ketuban pecah dini (KPD) preterm mencapai 90,2%. Nilai titik cut-off RNL lebih dari 3,55 menunjukkan nilai sensitivitas, spesifisitas, NPP, NPN, akurasi, dan indeks Youden optimal. Nilai RNL = 3,55 ditetapkan Dengan nilai p = 0,001 dan risiko relatif (RP, 95% CI) = 12,667 (3,285–48,847), hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik maupun klinis antara RNL dan kejadian KPD preterm.Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada usia kehamilan yang setara, pasien dengan KPD preterm memiliki nilai RNL 12,6 kali lebih tinggi daripada pasien tanpa KPD.