Budi Santosa , Nuruddin Priya
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EKONOMI SIRKULAR DARI DESA: EDUKASI DAN INOVASI TALENTA MUDA DALAM PENGELOLAAN LIMBAH BERKELANJUTAN Budi Santosa , Nuruddin Priya; Budiana Kurniawati, Susilaningtyas; Dwanita Widodo, Zandra; Cahyani, Meilan Ardita; Viona, Afrenia Inka; Saputro , Ridho Deco
Jurnal Pengabdian Masyarakat FKIP UTP Vol 7 No 1 (2026): PROFICIO : Jurnal Abdimas FKIP UTP
Publisher : FKIP UNIVERSITAS TUNAS PEMBANGUNAN SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jpf.v7i1.5985

Abstract

Permasalahan pengelolaan limbah di wilayah pedesaan masih menjadi tantangan serius yang berdampak pada penurunan kualitas lingkungan dan rendahnya produktivitas ekonomi masyarakat. Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, merupakan salah satu desa semi-urban dengan aktivitas pertanian dan rumah tangga yang cukup tinggi, namun belum memiliki sistem pengelolaan limbah terpadu. Kondisi ini mendorong perlunya model pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular, yang mengintegrasikan edukasi, inovasi teknologi, dan partisipasi talenta muda desa. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola limbah pertanian dan rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus menumbuhkan kewirausahaan hijau melalui pemanfaatan teknologi tepat guna. Program dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif kolaboratif, mencakup tiga tahapan utama: (1) identifikasi kebutuhan mitra dan potensi lokal, (2) pelatihan interaktif melalui sesi tatap muka, diskusi kelompok, dan praktik langsung, serta (3) evaluasi partisipatif dan replikasi hasil. Dua mitra utama terlibat aktif dalam kegiatan ini, yaitu Kelompok Tani Subur Makmur dan Karang Taruna Indonesia Desa Kepatihan. Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan signifikan terhadap keterampilan teknis dan kesadaran ekologis masyarakat. Tingkat penguasaan pengelolaan limbah organik meningkat dari 35% menjadi 75%, sementara diversifikasi produk berbasis limbah naik dari 15% menjadi 55%. Produk yang dihasilkan meliputi pupuk organik, pakan ternak pelet, pupuk cair, serta kerajinan daur ulang (eco-craft). Selain itu, muncul unit usaha baru seperti Bank Sampah Karang Taruna dan Subur Makmur Green Product, yang berperan dalam memperkuat ekonomi sirkular desa. Kesimpulannya, kegiatan ini berhasil membangun model pemberdayaan berbasis ekonomi hijau yang memadukan edukasi, inovasi teknologi, dan kepemimpinan talenta muda desa. Model ekonomi sirkular dari desa ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menurunkan timbulan limbah secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut dapat direplikasi di desa lain dengan karakteristik serupa sebagai strategi menuju pembangunan desa hijau berdaya saing dan berketahanan lingkungan.
SAMPAH, SOLIDARITAS, ATAU TEKANAN PRODUKTIVITAS? MENELAAH RELASI KARANG TARUNA DAN KWT DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS KOLEKTIF MENUJU AGROWISATA HIJAU Budi Santosa , Nuruddin Priya; Budiana Kurniawati, Susilaningtyas; Dwanita Widodo, Zandra; Norbertus Citra Irawan; Eny Kusumawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat FKIP UTP Vol 7 No 1 (2026): PROFICIO : Jurnal Abdimas FKIP UTP
Publisher : FKIP UNIVERSITAS TUNAS PEMBANGUNAN SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jpf.v7i1.5986

Abstract

Abstrak ditulis secara ringkas dan faktual menggunakan huruf Tahoma, ukuran 9pt dengan panjang teks Masyarakat di Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri menghadapi kondisi awal berupa dua masalah paralel, yaitu stagnasi partisipasi generasi muda dalam Karang Taruna (KT) serta keterasingan ekonomi Kelompok Wanita Tani (KWT) yang terikat rutinitas domestik. Sampah dan limbah tidak tertangani sehingga membentuk lingkungan fisik dan mental yang memunculkan rasa tidak berdaya. Tim pemberdayaan memfasilitasi kolaborasi antara KT dan KWT dengan menjadikan pengelolaan sampah sebagai pintu masuk perubahan, solidaritas sebagai penggerak energi sosial, dan penguatan kelembagaan sebagai pertahanan menghadapi tekanan produktivitas eksternal. Proses fasilitasi berlangsung melalui diskusi partisipatif, pembentukan visi bersama, dan perancangan struktur kerja yang inklusif. Hasilnya menunjukkan terbentuknya identitas kolektif baru sebagai “Kawasan Agrowisata Hijau Mandiri” yang mengintegrasikan aspek ekologis, ekonomi, dan sosial. KT dan KWT bukan hanya berhasil menciptakan kebun wisata berbasis pengolahan sampah organik, tetapi juga menunjukkan kemampuan bernegosiasi dengan pasar, menyusun program inovatif, serta mengelola konflik secara mandiri. Pemberdayaan terjadi pada level individu melalui tumbuhnya rasa percaya diri, pada level kelompok melalui solidaritas fungsional, dan pada level kelembagaan melalui sistem tata kelola yang transparan dan adaptif.