Penelitian ini mengkaji representasi penumpasan komunisme pasca-peristiwa Gerakan 30 September (G30S) dalamfilm serial Netflix Gadis Kretek. Tujuan utamanya adalah untuk mengungkap bagaimana elemen-elemen sinematikdalam film tersebut merepresentasikan trauma kolektif dan konflik ideologis, serta bagaimana film menghadirkanperspektif baru yang lebih inklusif terhadap ingatan sejarah, khususnya terkait simpatisan Partai Komunis Indonesia(PKI). Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika sosial Theo van Leeuwen, penelitian ini berfokuspada analisis episode 3 hingga 5, dengan unit analisis mencakup Representational Meaning, Gramatika Desain danVisual, serta Analisis Multimodal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Gadis Kretek merepresentasikanpenumpasan komunisme secara implisit melalui berbagai simbol (seperti "Partai Merah", tanda "X", dan "KretekMerah"), dialog, dan elemen visual. Representasi ini tidak hanya menantang narasi sejarah dominan denganmemanusiakan korban dan menampilkan dampak antar generasi, tetapi juga mengindikasikan adanya penggunaan isupolitik sensitif sebagai elemen yang berpotensi komersial dalam industri film populer. Film ini disimpulkan berfungsisebagai media alternatif yang penting dalam merepresentasikan sejarah kelam Indonesia, mengkritisi cara-cararepresentasi di media arus utama, dan membuka ruang bagi narasi tandingan sekaligus menyoroti multifungsi mediafiksi dalam diskursus sejarah, politik, hingga komersialisasi budaya.Kata Kunci- Representasi Sejarah, Gadis Kretek, Penumpasan Komunisme, Semiotika Sosial, Budaya PopulerIndonesia