Background: Tuberculosis (TB) is a lung infection caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis and remains a major health problem worldwide, including in Indonesia. Shortness of breath is a common symptom in TB patients, especially in the advanced stages. Purpose: To determine the effect of simple inhalation using mint leaf aromatherapy on reducing respiratory rate in TB patients with shortness of breath in home care settings. Method: This study used a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest. The sample consisted of 15 TB patients with shortness of breath at the Cibeureum Community Health Center who met the inclusion and exclusion criteria. Data collection was conducted by measuring respiratory rate before and after simple mint leaf inhalation for three consecutive days. Data analysis used a dependent sample t-test. Results: The average respiratory rate before the intervention was 24.87 breaths/minute and decreased to 22.73 breaths/minute after the intervention. A dependent sample t-test showed a significant difference (p=0.000) between the respiratory rates before and after the intervention. Conclusion: Simple inhalation using mint aromatherapy significantly reduced respiratory rates in TB patients with shortness of breath. This therapy is easy to perform and can be an alternative complementary therapy at home. Keywords: Aromatherapy; Home Care; Inhalation; Mint; Shortness of Breath; Tuberculosis. Pendahuluan: Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, dan masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia, termasuk Indonesia. Sesak napas merupakan gejala umum pada penderita TBC, terutama pada stadium lanjut. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh inhalasi sederhana menggunakan aromaterapi daun mint terhadap penurunan frekuensi pernapasan pada penderita TBC dengan sesak napas di tatanan home care Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan rancangan one-group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 15 penderita TBC dengan sesak napas di Puskesmas Cibeureum yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah diberikan inhalasi sederhana daun mint selama tiga hari berturut-turut. Analisis data menggunakan uji dependent sample t-test. Hasil: Rata-rata frekuensi pernapasan sebelum intervensi adalah 24.87 kali/menit dan menurun menjadi 22.73 kali/menit setelah intervensi. Uji dependent sample t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=0.000) antara frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah intervensi. Simpulan: Inhalasi sederhana menggunakan aromaterapi daun mint memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan frekuensi pernapasan pada penderita TBC dengan sesak napas. Terapi ini mudah dilakukan dan dapat menjadi alternatif terapi komplementer di rumah. Kata Kunci: Aromaterapi; Daun Mint; Inhalasi; Perawatan Di Rumah; Sesak Nafas; Tuberculosis.