Mubarak, Muhammad Arief
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perlindungan Pekerja Migran di Asia Tenggara melalui Kerjasama Regional ASEAN Forum on Migrant Labour (AFML) Humaira, Salsabila; Husna, Nurul; Mubarak, Muhammad Arief
Share : Social Work Journal Vol 15, No 2 (2025): Share : Social Work Journal
Publisher : University of Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v15i2.68820

Abstract

Kesenjangan antara kontribusi ekonomi pekerja migran dan minimnya perlindungan hak asasi mereka telah menjadi tantangan utama dalam integrasi regional ASEAN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mekanisme ASEAN Forum on Migrant Labour (AFML) membangun harmonisasi kerja sama perlindungan pekerja migran di negara anggota, dengan menggunakan kerangka teori Institusionalisme Neoliberal dan Pembangunan Sosial. Menggunakan metode kualitatif dengan analisis isi terhadap dokumen hukum utama (Deklarasi 2007 dan Konsensus 2017), rekomendasi AFML ke-17 tahun 2024, serta laporan evaluasi implementasi jangka panjang, studi ini membedah dinamika kerja sama regional dari aspek Institusional Neoliberal yaitu transparansi informasi, penyesuaian timbal balik, dan kepatuhan reputasional serta aspek Pembangunan sosial yaitu kesejahteraan, investasi sosial, dan Kerjasama berbasis hak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AFML membangun harmonisasi melalui dua jalur utama: pertama, penyelarasan norma dan standar ekspektasi bersama yang mengurangi biaya transaksi diplomasi. Kedua, inisiasi investasi sosial di tingkat operasional melalui layanan informasi dan pengakuan keahlian. Meskipun AFML berhasil menciptakan kerangka perlindungan berbasis hak yang lebih spesifik dan responsif terhadap isu baru seperti ekonomi perawatan (care economy), proses harmonisasi ini ditemukan bersifat asimetris. Negara anggota menunjukkan komitmen tinggi pada harmonisasi teknis-administratif namun cenderung resisten terhadap reformasi hukum domestik yang bersifat struktural. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun AFML efektif membangun fondasi investasi sosial kawasan, harmonisasi kebijakan yang menyeluruh masih terhambat oleh kepentingan kedaulatan nasional, sehingga perlindungan substantif belum sepenuhnya terimplementasi secara merata di lapangan.
Dinamika Koordinasi Lembaga Swadaya Masyarakat, Donor Internasional, dan Mitra Lokal dalam Program Kemanusiaan di Aceh Husna, Nurul; Humaira, Salsabila; Mubarak, Muhammad Arief
Share : Social Work Journal Vol 16, No 1 (2026): Share : Social Work Journal
Publisher : University of Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v16i1.66194

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika koordinasi antara donor internasional (INGO), LSM Global Ehsan Relief Indonesia (GER Indonesia), dan mitra lokal dalam program kemanusiaan di Aceh, dengan menggunakan kerangka koordinasi Yeheskel Hasenfeld (2010) yaitu pendekatan koordinasi formal, partisipatif, dan jejaring. Studi ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap lima staf GER Indonesia dari berbagai posisi serta satu organisasi lokal sebagai partner. Temuan utama menunjukkan adanya ketimpangan peran dan distribusi kekuasaan, di mana donor internasional dominan dalam pendanaan dan pengambilan keputusan strategis melalui koordinasi formal yang hierarkis. Sementara koordinasi partisipatif lebih banyak terjadi dengan mitra lokal, efektivitasnya terbatas oleh keterbatasan sumber daya, kapasitas, dan ketidaksetaraan dalam pengambilan keputusan. Tantangan koordinasi multilevel juga muncul akibat perbedaan struktural, kultural, dan teknis. Ketergantungan pada pendanaan eksternal memperkuat posisi subordinatif mitra lokal, sehingga diperlukan strategi penguatan kapasitas, pelibatan sejak tahap awal, dan pembentukan jejaring kolaboratif untuk menciptakan kemitraan yang setara dan berkelanjutan. Penelitian ini menyoroti pentingnya perencanaan inklusif, komunikasi timbal balik, dan pemberdayaan lokal guna mendukung agenda global localization of aid.